Takhayul Jahiliyah dalam Islam: Jangan Jadikan Pertanda Buruk sebagai Penghalang Ikhtiar
Kaum Jahiliyah memiliki banyak takhayul untuk meramal kesialan: ramalan
bintang, burung pertanda buruk, dan sebagainya. Islam datang menepis semua itu. Nabi ﷺ bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا
طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَلَا غُولَ وَلَا نَوْءَ
"Tidak ada penularan (dengan sendirinya), tidak ada pertanda buruk
(thiyarah), tidak ada burung Hamah (pertanda kematian), tidak ada (kesialan)
Shafar, tidak ada Ghul (jin penyesat musafir), dan tidak ada ramalan bintang
(nau')." [HR Bukhari-Muslim]
Bahkan Nabi ﷺ
menegaskan bahwa meyakini pertanda buruk termasuk bentuk kesyirikan:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
"Mempercayai pertanda buruk itu adalah kesyirikan." [HR Ibnu Majah, Abu Dawud]
Meski demikian, perlu dibedakan antara merasakan lintasan pertanda
buruk dengan meyakininya sebagai pedoman. Setiap orang pasti pernah
merasakan firasat buruk dalam hatinya, dan itu di luar kendali manusia sehingga
bukan dosa. Yang terlarang adalah menjadikan perasaan itu sebagai alasan
mengurungkan rencana. Sahabat Ibnu Mas'ud ra berkata:
وَلَٰكِنَّ اللَّهَ
يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
"Tidak ada seorang pun dari kita kecuali (pernah merasakan pertanda
buruk), tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal." [HR Ibnu Majah, Turmudzi]
Ketika seorang sahabat bertanya tentang kebiasaan Jahiliyah mendatangi
dukun dan berpatokan pada pertanda buruk, Nabi ﷺ menjawab:
ذَٰلِكَ شَيْءٌ
يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ
"Itu adalah sesuatu yang didapati dalam diri salah seorang dari
kalian, maka janganlah hal itu menghalangi kalian (untuk melanjutkan
pekerjaan)." [HR Muslim]
Dengan demikian, larangan dalam Islam bukan pada munculnya firasat,
melainkan pada keyakinan dan sikap yang lahir darinya. [Aham]
.


0 Comments