Ramadan selalu menyimpan satu malam yang membuat langit dan bumi
seakan saling mendekat. Malam itu adalah Lailatul Qadar—malam yang oleh
Al-Qur’an disebut lebih baik dari seribu bulan. Artinya sederhana tetapi
mengguncang: satu malam bisa bernilai lebih dari 83 tahun ibadah. Bagi seorang
mukmin, ini bukan sekadar momentum spiritual, tetapi kesempatan hidup yang
mungkin tidak datang dua kali.
Mengapa Disebut Lailatul Qadar?
Para ulama menjelaskan bahwa kata “qadar” mengandung beberapa
makna besar sekaligus.
Pertama, malam penetapan takdir. Dalam riwayat Ibnu Abbas
disebutkan bahwa pada malam itu dicatat berbagai ketentuan satu tahun ke
depan—rezeki, ajal, peristiwa, dan berbagai urusan manusia [al-Wāḥidī, al-Tafsīr
al-Basīṭ, 20/95]. Dengan kata lain, Lailatul Qadar adalah malam ketika
lembar takdir tahunan manusia disusun.
Kedua, malam kemuliaan. Malam ini dimuliakan karena pada saat
itulah Allah menurunkan kitab yang paling agung, Al-Qur’an, kepada Rasul yang
paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ, untuk umat yang juga dimuliakan.
Ketiga, nilai amal yang luar biasa. Ibadah pada malam ini tidak
dihitung seperti malam biasa. Ia dilipatgandakan hingga melebihi ibadah selama
seribu bulan. Karena itu, para ulama sering mengatakan bahwa Lailatul Qadar
adalah “investasi spiritual terbesar dalam hidup seorang muslim”.
Mencari Malam yang Dirahasiakan
Menariknya, Allah tidak menjelaskan secara pasti kapan Lailatul
Qadar terjadi. Rasulullah ﷺ hanya memberi petunjuk bahwa malam ini
berada di sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil.
Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, terkait waktu terjadinya malam
Lailatul Qadar, ada
banyak sekali pendapat, masing-masing pendapat dengan landasan argumennya. Ibnu Hajar dalam
Fathul Bari menyebutkan ada 45 pendapat soal ketetapan waktu malam Lailatul
Qadar. Namun, menurut Ibnu Hajar, dari 45 pendapat itu, yang paling unggul (rajih)
adalah pendapat yang mengatakan bahwa
Lailatul Qadar terjadi pada tanggal ganjil dari 10 malam terakhir bulan Ramadan.
Mengapa dirahasiakan?
Para ulama menyebut bahwa rahasia ini bukan tanpa hikmah. Jika
tanggalnya diketahui dengan pasti, banyak orang mungkin hanya beribadah satu
malam saja. Namun dengan dirahasiakannya waktu tersebut, seorang mukmin
terdorong untuk bersungguh-sungguh sepanjang sepuluh malam terakhir.
Sebagian ulama memang cenderung pada malam ke-27, karena sejumlah
petunjuk dalam riwayat. Namun para ulama yang arif menegaskan bahwa orang yang
benar-benar mencari Lailatul Qadar tidak akan bertaruh pada satu malam saja; ia
akan menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir.
Pelajaran
Besar di Balik Dirahasiakannya Malam Itu
Ada satu
kisah yang sering dikutip dalam hadis: Rasulullah ﷺ pernah keluar untuk memberitahukan kepada
para sahabat tentang waktu Lailatul Qadar. Namun, dua orang sahabat bertengkar,
sehingga pengetahuan itu diangkat kembali. [HR. Bukhari no. 2023]
Kisah ini menyimpan pesan yang sangat dalam: permusuhan dapat
menghalangi turunnya keberkahan.
Kebencian, iri hati, dan pertengkaran bukan sekadar masalah
sosial. Dalam perspektif spiritual, ia menjadi penghalang datangnya rahmat
Allah. Hati yang dipenuhi kebencian sulit menerima cahaya keberkahan.
Karena itu, sebelum mencari Lailatul Qadar, para ulama sering
menasihati: bersihkan hati terlebih dahulu. Maafkan orang lain, akhiri
permusuhan, dan jernihkan hubungan dengan sesama. Sehingga hati yang jernih dan
bersih layak menerima pancaran cahaya dan keberkahan Lailatul Qadar.
Tanda-Tanda Lailatul Qadar
Para ulama menyebutkan beberapa tanda yang pernah dijelaskan oleh
Nabi ﷺ.
Salah satunya adalah matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar
yang menyilaukan. Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa matahari pada pagi itu
tampak lembut dan putih. [HR. Muslim, no. 762]
Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa malam tersebut terasa tenang
dan sejuk, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin (laylatun ṭaliqah lā
barada fīhā wa lā ḥarr). Suasananya dipenuhi ketenteraman yang sulit
dijelaskan dengan kata-kata. Nabi Saw. bersabda,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ طَلِقَةٌ لَا
حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ تُصْبِحُ الشَّمْسُ يَوْمَهَا حَمْرَاءَ ضَعِيفَةً
“Lailatul Qadar adalah malam yang tenang; tidak panas dan tidak
pula dingin. Pada pagi harinya matahari terbit dalam keadaan kemerahan dan
lemah (tidak menyilaukan).” [Muhammad bin Nasr al-Marwazi, Mukhtaṣar Qiyām
al-Layl wa Qiyām Ramaḍān, 1/258]
Malam itu juga ditandai dengan turunnya para malaikat ke bumi melebihi
jumlah kerikil (إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ
اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى). [HR. Ahmad no. 10885]
Cara Menghidupkan Lailatul Qadar
Rasulullah ﷺ memberi contoh yang sangat jelas tentang
bagaimana menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan.
Pertama, i’tikaf, yaitu berdiam di masjid untuk fokus beribadah
dan menjauh dari kesibukan dunia. (عن عائشة رضي الله عنها: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ
مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ» [البخاري: (٢٠٢٦)])
Kedua, membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Dalam hadis disebutkan
bahwa setiap malam Ramadan Malaikat Jibril datang kepada Nabi untuk mengulang
bacaan Al-Qur’an bersama beliau. (عن ابن عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: "كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ
فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ ﷺ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ" [البخاري (٦)])
Ketiga, qiyamul lail, yaitu salat malam. Nabi ﷺ bersabda bahwa siapa
yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan harapan pahala akan diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu. (عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول
الله ﷺ: «مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا غُفر لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» [البخاري (١٩٠١)، ومسلم (٧٦٠)])
Keempat, membangunkan keluarga. Rasulullah tidak hanya beribadah
sendiri; beliau juga membangunkan keluarganya agar semua merasakan keberkahan
malam tersebut. (فقد كان ﷺ «إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ
وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ» [البخاري (٢٠٢٤)، ومسلم (١١٧٤)])
Kelima, memperbanyak doa. Doa yang paling dianjurkan adalah doa
yang diajarkan Nabi kepada Aisyah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa
fa’fu ‘anni.”
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: يا رسول الله أرأيت إن علمت أيَّ ليلةٍ ليلةَ
القدر ما أقول فيها قال: «قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ
عَنِّي» [الترمذي (٣٥١٣)])
Doa ini sederhana, tetapi mengandung inti dari seluruh harapan
manusia, yaitu ampunan Allah Swt.
Kesempatan yang Tidak Selalu Datang
Lailatul Qadar bukan sekadar malam istimewa dalam kalender Islam.
Ia adalah kesempatan langka dalam hidup.
Tidak ada yang tahu apakah kita akan bertemu Ramadan berikutnya
atau tidak. Karena itu, para ulama sering mengatakan bahwa sepuluh malam
terakhir Ramadan adalah musim panen bagi orang-orang yang ingin mendekat kepada
Allah.
Jika malam ini benar-benar lebih baik dari seribu bulan, tentu
satu malam yang dihidupkan dengan penuh keikhlasan bisa mengubah perjalanan
hidup seseorang.
Maka ketika sepuluh malam terakhir tiba, para pencari cahaya tidak
hanya menunggu Lailatul Qadar, mereka menyambutnya dengan kesungguhan, hati yang
bersih, dan harapan yang besar kepada Allah Swt. [Aham]