Pada hari Kamis, tanggal 6 Agustus 2026, telah diselenggarakan kegiatan
Stadium General bertema "Menjaga Akidah di Era Digital" oleh Lembaga
Kaderisasi Aswaja Ma'had Aly Nurul Islam Jember, dalam rangka memperingati 45
tahun Pondok Pesantren Nurul Islam Jember. Kegiatan ini bertempat di Ma'had Aly
Nurul Islam Jember dan dihadiri oleh Mudir Ma'had Aly Nurul Islam Jember, KH.
Muhyiddin Abdul Somad, beserta segenap dosen, para masyaikh, civitas akademika,
dan seluruh mahasantri Ma'had Aly Nurul Islam Jember. Kegiatan ini menghadirkan
KH. Abdul Qoyyum Mansur, Pengasuh Pondok Pesantren Annur Lasem, Rembang,
sebagai narasumber, dengan Rafidan Abdillah bertindak sebagai moderator.
Acara dibuka dengan pembacaan Suratul Fatihah, dilanjutkan dengan sambutan
dari KH. Muhyiddin Abdul Somad selaku Mudir Ma'had Aly Nurul Islam Jember.
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan kekhawatiran terhadap derasnya arus
informasi di media sosial yang kerap menimbulkan kebingungan akidah, terutama
bagi kalangan yang tidak mengenyam pendidikan pesantren. Beliau berharap agar materi yang disampaikan narasumber dapat menjadi
benteng bagi mahasantri dalam menghadapi tantangan era digital.
Selanjutnya, acara memasuki sesi inti berupa penyampaian materi oleh KH.
Abdul Qoyyum Mansur (Gus Qayyum). Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa
perkembangan teknologi di satu sisi memudahkan akses terhadap ilmu, namun di
sisi lain membawa tantangan berupa arus informasi keagamaan yang tidak selalu
berlandaskan kaidah ilmiah yang benar, sehingga dibutuhkan manhaj berpikir yang
tepat serta sanad keilmuan yang jelas. Dengan mengutip kitab Al-I'tidā'
al-Elektronī (الاعتداء
الإلكتروني), Gus Qayyum memaparkan adanya
kejahatan digital yang didorong oleh kepentingan penyebaran akidah tertentu (ad-dāfi'
al-'aqadī / الدافع
العقدي) serta propaganda pemikiran
sekuler maupun liberal.
Terkait sikap dalam menghadapi arus informasi, beliau menegaskan pentingnya
berpegang pada prinsip tabayyun sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT:
إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
"Jika datang
kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya"
(QS. Al-Hujurat [49]: 6). Beliau juga mengingatkan mahasantri agar tidak ikut
menyebarluaskan aib para ulama di media sosial, karena tindakan tersebut
berpotensi menjauhkan masyarakat dari agama. Dalam konteks metodologi dan etika
berpikir, Gus Qayyum menekankan pentingnya bersikap objektif dan ilmiah dalam
menyikapi kelompok lain, misalnya kalangan Wahabi, tanpa jatuh pada sikap
ekstrem (ghuluw). Beliau turut menganjurkan kebiasaan membaca kitab
fisik guna menghindari distorsi informasi yang kerap terjadi di ranah digital,
serta mengajak untuk meneladani strategi diplomasi Rasulullah SAW (ad-Diplomāsiyyah
an-Nabawiyyah / الدبلوماسية
النبوية) dalam menyampaikan ajaran
Ahlusunnah wal Jamaah dengan bahasa yang santun dan menyentuh hati, agar proses
transformasi ilmu berlangsung lebih efektif.
Materi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung secara
interaktif antara mahasantri dan narasumber. Menjawab pertanyaan mengenai
pengaruh algoritma media sosial terhadap pola pikir penggunanya, Gus Qayyum
menjelaskan bahwa yang sesungguhnya perlu dibina bukanlah teknologinya,
melainkan manusianya selaku konsumen. Langkah praktis yang beliau anjurkan
adalah menjaga pandangan, sebagaimana firman Allah SWT:
يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
"Hendaklah mereka menahan
pandangannya" (QS. An-Nur [24]: 30), serta
mengalihkan aktivitas pada hal-hal yang lebih positif, seperti membaca
Al-Qur'an. Adapun terkait pertanyaan mengenai status Nabi Isa AS, beliau
menegaskan berdasarkan dalil Al-Qur'an bahwa Nabi Isa AS beserta ibunya adalah
manusia biasa yang membutuhkan makanan, sebagaimana firman Allah SWT:
كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ
"Keduanya biasa memakan
makanan" (QS. Al-Ma'idah [5]: 75), yang
sekaligus menjadi bantahan terhadap konsep ketuhanan selain Allah SWT.
Rangkaian kegiatan Stadium General ini ditutup dengan doa bersama yang
dipimpin langsung oleh KH. Abdul Qoyyum Mansur, dilanjutkan dengan sesi foto
bersama sebagai penanda berakhirnya acara secara khidmat. Ilmu yang diperoleh
dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasantri Ma'had Aly
Nurul Islam Jember dalam menjaga akidah Ahlusunnah wal Jamaah di tengah
tantangan zaman digital. [Aham]







