
Kajian teologi Islam menuntut ketelitian tinggi
dalam membedakan hakikat Żāt dan sifat-sifat Allah, agar tidak terjatuh
ke dalam kerancuan penyerupaan dengan makhluk.
Mari mulai dari fondasinya. Secara konseptual,
entitas żāt terbagi ke dalam empat kategori rasional. Pertama, jauhar,
yakni entitas tunggal terkecil. Kedua, jism, yakni entitas yang tersusun
dari banyak jauhar. Ketiga, ʻaraḍ, yakni aksiden atau sifat yang
menempel pada substansi. Keempat, sesuatu yang bukan jism, bukan jauhar,
dan bukan ʻaraḍ. Seluruh alam semesta beserta makhluk di dalamnya masuk
ke salah satu dari tiga kategori pertama. Sebaliknya, Allah mutlak berada pada
kategori keempat, berdasarkan prinsip laisa kamiṡlihī syai’un (tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan-Nya).
Dari sini, sifat-sifat Allah terbagi menjadi dua
klasifikasi utama. Sifat żātiyyah adalah sifat yang melekat erat pada Żāt
Allah dan tidak terpisahkan dari-Nya. Seluruh sifat żātiyyah bersifat qadīm
(tanpa permulaan), baqā’ (tanpa akhir), waḥdāniyyah (tunggal dan
esa), serta mukhālafah lil-ḥawādiṡ (berbeda secara mutlak dari atribut
makhluk). Contohnya mendengar, melihat, dan mengetahui, yang senantiasa ada
pada Żāt Allah tanpa henti. Adapun sifat fiʻliyyah adalah sifat
yang dinisbatkan kepada Allah, tetapi perubahan atau dampaknya melekat dan
terjadi pada diri makhluk, bukan pada Żāt Allah. Contohnya menciptakan
(makhluk menjadi tercipta), mematikan (makhluk menjadi mati), menghidupkan
(makhluk menjadi hidup), dan merahmati (makhluk menerima rahmat).
Persoalan menjadi menarik ketika kita sampai pada
lafaz-lafaz seperti yad (tangan), ʻain (mata), wajh
(wajah), istawā, dan nuzūl. Penetapan statusnya sangat bergantung
pada cara memaknainya. Lafaz yad, bila dimaknai sebagai kekuasaan Allah
untuk berbuat, tergolong sifat żātiyyah, baik diposisikan sebagai bagian
dari sifat qudrah maupun berbeda darinya. Namun bila dimaknai sebagai
perlindungan atau pertolongan, ia masuk kategori sifat fiʻliyyah. Lafaz istawā,
bila dipahami sebagai penguasaan mutlak atas alam semesta, termasuk sifat żātiyyah.
Sebaliknya, bila diartikan sebagai perbuatan khusus Allah terhadap al-ʻArsy, ia
berstatus sifat fiʻliyyah. Sementara lafaz nuzūl, bila dimaknai
sebagai tersedianya pintu ampunan (magfirah) dan rahmat pada sepertiga
malam terakhir, tergolong sifat fiʻliyyah.
Di titik inilah garis pembeda antara sifat żātiyyah
dan sifat jismiyyah menjadi krusial. Seluruh ulama Ahl al-Sunnah wa
al-Jamāʻah bersepakat bahwa redaksi seperti yadullāh bukanlah
anggota fisik atau organ yang menyusun Żāt Allah. Hal ini menegaskan
bahwa Allah bukanlah sosok tiga dimensi (3D) yang menempati ruang di arah atas
al-ʻArsy. Pemaknaan istawā sebagai keberadaan Allah yang terbatas di
atas al-ʻArsy dengan ukuran tertentu, baik menempel maupun melayang, serta
pemaknaan nuzūl sebagai perpindahan fisik Allah dari atas al-ʻArsy ke
langit dunia, merupakan sifat jismiyyah dan sama sekali bukan sifat żātiyyah.
Bertempat, berukuran, dan berpindah posisi adalah atribut khusus jism, sehingga
mustahil disematkan kepada Żāt Allah yang bukan jism, jauhar, maupun
ʻaraḍ.
Kerancuan ini sering disamarkan oleh kalangan
Taymiyyūn (Wahhābī) seolah-olah bagian dari sifat żātiyyah. Meskipun
demikian, ada sebagian pengikut Taymiyyūn pemula yang hanya membaca secara
global dan sekadar menetapkan istilah Al-Qur’an serta hadis, tanpa membayangkan
adanya sosok 3D yang naik-turun. Kelompok pemula ini pada dasarnya memiliki
kesamaan dengan Asyʻariyyah, tetapi ikut mencela Asyʻariyyah semata-mata karena
menjadi korban misinformasi. [Aham]
*Disarikan dari tulisan Dr. KH. Abdul Wahab Ahmad, M.H.I.



