Seorang Wahabi
berkomentar mengkritik Asy’ariyah yang mengatakan bahwa sifat Pengampun bagi
Allah bukan sifat wajib tapi sifat jaiz. Menurutnya, biarpun Allah tidak
mengampuni, tetapi tetap Maha Pengampun.
Ini adalah
salah satu dari sekian banyak kesalahpahaman kawan-kawan Wahabi-Taymiy tentang
istilah “sifat wajib” sebab memang tidak pernah belajar pada guru yang tepat.
Anehnya, mudah sekali berkomentar tentang apa yang tidak dipahami.
Begini, yang
disebut sifat wajib itu bukan sifat yang pokok ada di Qur’an atau hadis, sama
sekali bukan. Kategori sifat wajib
adalah kategori sifat-sifat yang menjadi syarth al-uluhiyah alias syarat
ketuhanan. Artinya, kalau Tuhan tidak punya sifat itu meski sekejap, atau punya
lawan dari sifat itu meski sekejap, maka ia bukan lagi Tuhan.
Contohnya adalah sifat wujud (ada). Meskipun
kalimat “Allah Maha Wujud” tidak ditemukan di al-Qur’an, tetapi ini adalah
sifat wajib sebab keberadaannya dipastikan benar dan mustahil tidak ada
meskipun sekejap. Bila sekejap saja pernah tidak ada, maka bukan Tuhan namanya.
Demikian pula sama’ (pendengaran) dan Bashar
(penglihatan), keduanya ada dalam al-Qur’an dan masuk dalam kategori sifat
wajib. Alasannya sebab sosok Tuhan pastilah selalu memiliki sama’ dan mustahil
buta atau tuli meskipun sekejap. Bila sekejap saja pernah buta atau tuli, maka
bukan Tuhan namanya.
Nah, kriteria ini tidak dipenuhi oleh sifat Maha
Pengampun sebab Allah kadang mengampuni dan kadang tidak mengampuni. Dalam
al-Qur’an, Allah disebut sebagai al-Ghafur (Pengampun) tapi sekaligus Syadid
al-Iqab (Pemberi siksa yang keras).
Dua keadaan yang bertolak belak belakang ini:
kadang mengampuni dan kadang tidak, membuatnya tidak masuk pada kriteria sifat
wajib. Alasannya, sebab ketika Allah mengampuni, ia adalah sosok Tuhan dan
ketika tidak mengampuni maka tetap sosok Tuhan. Dengan kata lain, keberadaan
ampunan dan ketiadaannya bukan merupakan syarat ketuhanan.
Bila sifat Maha Pengampun dipaksa dijadikan
sebagai sifat wajib, maka artinya ketika ada satu saja orang yang dimasukkan ke
neraka meskipun sekejap , maka Allah tidak lagi menjadi Tuhan. Tapi karena
bukan begitu kejadiannya, Allah bebas memberi ampun atau tidak pada hambanya
yang dikehendaki, dan ini dinyatakan dalam banyak ayat al-Qur’an, maka artinya
sifat ini bukan sifat wajib. Ketika Allah berperan sebagai al-Ghafur, maka Dia
adalah Tuhan, dan ketika berperan sebagai al-Muntaqim (Maha Pembalas), Dia juga
adalah Tuhan.
Seluruh sifat Allah yang bukan merupakan syarat
ketuhanan, masuknya di sifat jaiz. Ada buaaaanyaaaak sekali sifat jaiz ini.
Bukan sekedar banyak, tapi buaaaaaanyaaak. Pokoknya seluruh sifat yang
kebalikannya juga ada, maka masuk di kategori sifat jaiz. Allah al-Muhyi (Maha
menghidupkan) tapi sekaligus al-Mumit (Maha Mematikan), Dia al-Nafi’ (Maha
Memberi Manfaat) tapi sekaligus al-Dlar (Maha Memberi Musibah), Dia Maha
Rahman, Rahim, Ghafur, Syakur dan seterusnya yang enak-enak bagi hambanya, tapi
sekaligus al-Jabar, al-Qahhar, al-Muntaqim dan seterusnya. Ini semuanya
ditetapkan adanya tapi masuk kategori sifat jaiz.
Pembahan dari atas adalah soal penetapan
kategorinya. Adapun soal penyebutan, maka semua sifat dan nama yang disebutkan
dalam al-Qur’an atau hadis sahih, selalu bisa disebutkan untuk Allah. Meskipun
kenyataannya Allah tidak mengampuni Abu Lahab, Fir’aun, Iblis dan lainnya tapi
Allah tetap bisa disebut al-Ghafur. Demikian pula meskipun Allah mengampuni
banyak pendosa, Allah tetap bisa disebut sebagai al-Muntaqim. Jadi, bedakan
antara penetapan kategori dan penyebutan sebab ini adalah dia sisi yang berbeda.
Itulah bedanya sifat wajib dan sifat jaiz.
Semuanya ada dan ditetapkan oleh para ulama Ahlussunah wal Jamaah
(Asy’ariyah-Maturidiyyah), tapi secara ilmiah harus dimasukkan pada kluster
yang berbeda sesuai kriteria masing-masing. Sayangnya, inilah yang tidak
diketahui oleh kalangan Wahabi-Taymiy. Mereka tahunya Asy’ariyah hanya
menetapkan sifat wajib lalu menyebar fitnah bahwa selain itu dianggap tidak ada
atau tidak diakui.
Karena itu, saya sering bilang bahwa kawan-kawan
Wahabi-Taymiy tidak kenal sifat mustahil dan sifat jaiz. Problem utama mereka
karena kebodohan tentang dua kategori sifat itu. Perbedaan utama mereka dengan
Ahlussunah wal Jamaah ada di kedua kategori ini tapi selalu saja yang dibahas
adalah sifat wajib, akhirnya tidak pernah nyambung.
*Tulisan Dr. KH. Abdul Wahab Ahmad, M.H.I
