Selama ini,
isu lingkungan sering dibicarakan seolah-olah ia urusan para ilmuwan, aktivis,
atau pembuat kebijakan. Agama, dalam bayangan banyak orang, ada di ruang yang
berbeda: di masjid, di sajadah, di urusan akhirat. Yusuf al-Qaradawi menolak dikotomi
itu. Dalam karyanya Ri'āyah al-Bī'ah fī Syarī'ah al-Islām, ulama
kontemporer asal Mesir ini menegaskan bahwa merawat lingkungan bukan gagasan
impor dari Barat yang perlu dicarikan pembenarannya dalam Islam. Ia justru
berakar kuat dalam ajaran Islam sendiri, dari berbagai disiplin ilmu Islam
klasik.
Pilihan
katanya sudah menarik sejak awal. Al-Qaradawi lebih memilih istilah ri'āyah
ketimbang himāyah yang lazim dipakai dalam wacana lingkungan Arab modern.
Keduanya sama-sama bisa diterjemahkan sebagai penjagaan, tetapi bobotnya
berbeda. Himāyah atau perlindungan cenderung defensif: menjaga
lingkungan dari pencemaran, kemusnahan, dan dampak buruk. Sementara ri'āyah
lebih mirip seorang gembala yang merawat gembalaannya. Ia tidak hanya mencegah
kerusakan, tetapi juga membina, mengolah, dan memajukan kualitas lingkungan.
Dengan kata lain, umat Islam tidak cukup dengan tidak merusak. Mereka dipanggil
untuk memperbaiki dan menumbuhkan. Pandangan Yusuf al-Qaradawi ini sedang
menggeser peran manusia dari “penjaga pasif” menjadi “perawat aktif”.
Pijakan
teologisnya dibangun dari pandangan bahwa alam bukan benda mati yang sunyi.
Seluruh makhluk, hidup maupun tak hidup, adalah ciptaan Allah yang tunduk,
bertasbih, dan bersujud kepada-Nya. Implikasinya besar: alam memiliki relasi
sendiri dengan Penciptanya, sehingga tidak layak diperlakukan semata sebagai
komoditas. Dalam kerangka ini, status manusia sebagai khalifah di bumi dibaca
sebagai amanah, bukan hak istimewa untuk menguasai. Mandat yang menyertainya
mencakup ibadah, penegakan keadilan, dan pemakmuran bumi (i’mār al-arḍ).
Kekuasaan manusia atas alam, dengan demikian, selalu disertai
pertanggungjawaban.
Dimensi
etisnya diperkaya lewat tradisi akhlak dan tasawuf. Hubungan manusia dengan
alam, menurut al-Qaradawi, semestinya dilandasi iḥsān, yakni berbuat
baik dengan sebaik-baiknya, ditambah rasa kasih dan cinta (al-wudd wal-ḥubb)
terhadap sesama makhluk Allah. Ini menarik secara akademik karena etika
lingkungan Islam tidak berhenti pada kerangka hukum yang kering, tetapi
menyentuh sisi afektif: orang diminta mencintai, bukan hanya mematuhi larangan.
Kekuatan
argumen al-Qaradawi, sebagaimana diharapkan dari seorang faqih, terletak pada
integrasinya dengan maqāṣid asy-syarī’ah. Ia menunjukkan bahwa kerusakan
lingkungan mengancam kelima tujuan pokok syariat (al-ḍarūriyyāt al-khams).
Pencemaran mengancam jiwa dan kesehatan (ḥifẓ al-nafs), merugikan
generasi mendatang (ḥifẓ al-nasl), mengganggu kejernihan akal (ḥifẓ
al-‘aql), menggerus harta dan sumber daya (ḥifẓ al-māl), dan pada
akhirnya menyulitkan orang menjalankan agamanya (ḥifẓ al-dīn). Maka
merusak lingkungan bukan lagi pelanggaran etis yang bisa ditawar, melainkan
serangan terhadap inti tujuan syariat (ifsād al-bī’ah iḍā‘ah li-maqāṣid
al-syarī‘ah). Kaidah-kaidah fikih seperti lā ḍarara wa lā ḍirār
(tidak boleh membahayakan diri maupun orang lain dan tidak membalas dengan kejahatan),
al-ḍararu yuzāl (bahaya harus dihilangkan), serta dar’u al-mafāsid
muqaddam ‘alā jalbi al-maṣāliḥ (menolak kerusakan didahulukan daripada
mengambil manfaat) ia mobilisasi sebagai perangkat analisis. Kaidah-kaidah
klasik itu dihidupkan kembali untuk menjawab problem yang tak terbayangkan para
ulama terdahulu, dari limbah industri hingga polusi udara.
Dari fondasi
itulah al-Qaradawi merumuskan wujud nyata pemeliharaan lingkungan. Menanam
pohon, misalnya, dipandangnya sebagai ibadah sekaligus sedekah yang pahalanya
terus mengalir. Menghidupkan tanah mati lewat pertanian, irigasi, dan
permukiman yang tertata juga bernilai ibadah. Kebersihan, yang dalam tradisi
Islam disebut bagian dari iman, tidak berhenti pada tubuh dan pakaian, tetapi
meluas ke rumah, jalan, dan fasilitas umum. Ia juga menekankan pelestarian air,
tanah, keanekaragaman hayati, serta flora dan fauna agar tidak punah.
Perlindungan kesehatan manusia, termasuk pencegahan penularan penyakit dan
isolasi wabah, ikut masuk dalam bingkai yang sama. Begitu pula kelembutan
terhadap hewan dan tumbuhan, larangan menebang pohon tanpa alasan yang masuk
akal, bahkan larangan merusak alam di tengah peperangan. Semua itu bermuara
pada satu gagasan besar: menjaga keseimbangan ekosistem, karena alam semesta
ini diciptakan dengan ukuran yang presisi, dan mengganggunya berarti mengusik
tatanan yang Allah tetapkan.
Yang membuat
pemikiran ini terasa relevan adalah diagnosisnya terhadap akar masalah. Merujuk
QS. Ar-Rum ayat 41 yang menyebut kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan
manusia, al-Qaradawi menunjuk perilaku manusia, bukan sekadar teknologi atau
sistem ekonomi, sebagai biang persoalan. Ada kezaliman terhadap sesama,
terhadap alam, dan terhadap generasi yang belum lahir. Ada kesombongan yang
membuat manusia merasa berkuasa penuh tanpa merasa diawasi Sang Pencipta. Ada
keserakahan dan konsumsi berlebihan (isrāf) yang dituruti tanpa rem. Ada
pula pengabaian terhadap keseimbangan ekosistem (ḥifẓ al-tawāzun al-bī’ī)
dan sikap ingkar terhadap nikmat, ketika air, udara, dan sumber daya
disia-siakan seolah tak akan habis. Pembacaan ini sejalan dengan banyak kritik
dalam kajian ekologi kontemporer, yang melihat krisis lingkungan bukan semata
masalah teknis, tetapi krisis nilai dan cara pandang. Bedanya, al-Qaradawi
merumuskannya dalam bahasa wahyu: krisis ekologis adalah buah dari krisis moral
dan spiritual.
Menariknya, gagasan
ini tidak berhenti sebagai wacana normatif adalah rumusan strategisnya.
Al-Qaradawi menawarkan lima langkah: pendidikan sejak dini (tarbiyah al-nāsyi’ah)
yang memuat kesadaran lingkungan berbasis nilai agama; edukasi publik (al-tau`iyah)
melalui khotbah Jumat, ceramah masjid, media massa, dan karya budaya; kontrol
sosial (raqābah al-ra’yi al-’āmm) lewat organisasi masyarakat serta
revitalisasi hisbah, lembaga pengawasan publik dalam tradisi Islam;
penegakan hukum melalui regulasi lingkungan yang ketat dan sanksi ta’zīr (sulṭah
al-tasyrī‘ wa al-‘iqāb); serta kerja sama regional dan global (al-ta‘āwun
ma‘a al-mu’assasāt al-iqlīmiyyah wa al-‘ālamiyyah).
Pada
akhirnya, ekoteologi al-Qaradawi mengajak kita melihat bahwa menanam pohon,
menjaga sungai tetap bersih, menahan diri dari konsumsi berlebihan, dan
menuntut kebijakan yang adil bagi alam bukanlah aktivitas sampingan di luar
agama. Semuanya adalah bagian dari bentuk ketaatan. Bumi bukan sekadar tempat
singgah yang boleh dihabiskan isinya, melainkan amanah yang kelak dimintai
pertanggungjawaban. Di tengah banjir, polusi, dan perubahan iklim hari ini,
pesan itu terasa semakin mendesak: merawat bumi adalah cara kita menunaikan
peran sebagai hamba sekaligus khalifah. [Aham]
*Disarikan dari kitab




