Puasa adalah sarana
yang ditujukan untuk mengendalikan diri dari kuasa nafsu. Dengan membatasi
nafsu dari segala macam
keinginannya, membuat nafsu mudah untuk dikontrol. Ketika nafsu sudah bisa
dikendalikan maka ketaatan kepada Tuhan pun akan mudah direalisasikan.
Selanjutnya, derajat sebagai manusia yang bertakwa juga akan kita dapatkan.
Itulah hikmah tertinggi dari puasa sebagaimana telah disebutkan Allah dalam
Al-Quran, surah Al-Baqarah: 183.
Kiat-kiat untuk
mendapatkan kedudukan muttaqin (derajat orang-orang bertakwa) di sisi
Allah sangatlah sulit. Walaupun kita sudah berpuasa seharian penuh dengan
menahan makan dan minum serta hal-hal lainnya yang dapat membatalkan puasa, belum tentu puasa kita
diterima dan mempunyai dampak positif bagi diri kita. Mungkin kita masih sering
bergunjing, berlebihan saat berbuka dan sebagainya, yang jelas-jelas merupakan
dorongan dari efek kuasa nafsu pada diri kita. Hal inilah yang dimaksudkan nabi
dalam sabdanya, “Betapa banyak orang yang berpuasa, sedang ia hanya
mendapatkan rasa haus dari puasanya” [HR. Ahmad, no. 9936].
Di antara yang
disyariatkan untuk mengekang nafsu dan memaksanya untuk tunduk kepada Allah
adalah ritual i’tikaf. Ibnu Manzhur menjelaskan arti i’tikaf secara bahasa
adalah menghadap sesuatu secara terus-menerus tanpa memalingkan diri darinya.
Atau bisa diartikan dengan
mendiami dan tidak memisahkan diri dari sesuatu. [Mustafa al-Khin dan Mustafa
al-Bugha, al-fiqh al-manhaji,I, 363]. Ibnu Hajar al-Haitami
mengartikannya dengan menahan dan diam. [Syihabuddin Ahmad bin Hajar
al-Haitami, ithaf ahli al-islam bi khususiyyah ash-shiyam, 197].
Sebenarnya hakikat
i’tikaf sebagaimana yang dikatakan ibnu Rojab dalam kitab lathaif al-ma’arif
adalah memutus relasi-relasi dengan semua makhluk demi menghubungi sang pencipta
secara khidmat. [Dr. Soleh bin Abdullah bin Hamad al-Ushoimy, syarh maqashid ash-shaum, 101].
I’tikaf adalah ibadah
yang sunah dikerjakan dalam setiap waktu di masjid. Lebih-lebih pada bulan
Ramadan sehingga para ulama sangat menganjurkannya berdasarkan hadis nabi
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ
اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Dari Aisyah ra, istri nabi,
bahwa sesungguhnya nabi beri’tikaf pada sepluh hari terakhir dari bulan Ramadan
hingga beliau wafat, kemudian dilanjutan oleh istri-istri beliau.” [HR. Al-Bukhari, no. 2026]
Sedangkan tujuan dari
i’tikaf adalah menahan hati dari memandang selain Allah, menghadapkan diri
secara terus-menerus dan tidak memalingannya dari Allah, serta merenungi
bagaimana agar kita mendapat ridho Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Sehingga kita bisa menyadari bahwa segala sesuatu tidak ada, kecuali atas
kehendak-Nya. Akhirnya, kita dapat menyaksikan (merasakan dan menerapkan)
ketenangan yang luar biasa ketika menghadapi persoalan dunawi dan ukhrawi.
[Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami, ithaf ahli al-islam bi khususiyyah
ash-shiyam, 200].
Dalam ensiklopedi fikih
kementrian agama di Kuwait menjelaskan bahwa tujuan i’tikaf adalah menyerahkan
dan mendekatkan diri secara total kepada Allah, menjauhkan diri dari kesibukan
dunia. Melalui diam di dalam masjid, berarti kita berusaha menyerupai malaikat
(yang tidak pernah durhaka kepada Allah). Senantiasa menjalankan perintah dan
menjauhi larangan-Nya. [wizarah al-auqaf wa asy-syu’un al-islamiyyah bi
al-kuwait, V, 208].
Ibnu Hajar menyebutkan
dalam kitab tuhfah al-muhtaj, tujuan dari i’tikaf ialah untuk
mendapatkan lailatul qadar, yakni malam yang pahala amal di dalamnya lebih
utama daripada beramal selama seribu bulan. [Syihabuddin Ahmad bin Hajar
al-Haitami, tuhfah al-muhtaj bi syarh al-minhaj, III, 463].
Dengan memahami tujuan
dari itikaf ini, kita dapat menyangkal bahwa i’tikaf adalah kegiatan
kontraproduktif. I’tikaf bukan kegiatan menghabiskan waktu tanpa ada manfaat
yang dapat dirasakan. Secara materi, mungkin saja kita rugi. Waktu yang
seharusnya bisa digunakan untuk bekerja akhirnya tidak dimanfaatkan. Namun,
secara mental dan rohani, kita memperoleh gemblengan yang merupakan modal paling dasar
dalam mengarungi kehidupan. Dengan memiliki mental yang kuat, kita lebih siap
dari hari kemarin.
Lingkungan yang dipenuhi
dengan orang-orang yang tersibukkan oleh rumitnya urusan duniawi, seperti
lingkungan perkotaan dan perkantoran, justru menjadi lingkungan yang sangat
membutuhkan i’tikaf. Mereka membutuhkan persiapan mental agar lebih siap dalam menghadapi
pernak-pernik kehidupan dunia. Karena i’tikaf adalah lahan untuk menenangkan,
mengendalikan dan introspeksi diri. [Aham]
.jpg)
.png)
.png)
.png)
