Ada satu cara pandang yang sering kita pelihara tanpa sadar, yaitu mengaitkan ibadah dan kebaikan dengan imbalan dunia. Seolah-olah ketika anak dimondokkan, rajin menunaikan salat, berbakti kepada orang tua, dan menjauhi larangan agama, maka balasan yang pasti adalah rezeki yang lancar dan hidup yang dimudahkan, cara berpikir seperti ini tampak wajar. Bukankah Allah Maha Adil dan Maha Membalas? Namun, persoalan muncul ketika balasan dipersempit hanya dalam bentuk materi dan kemudahan hidup. Saat realitas tidak berjalan sesuai harapan, muncullah kekecewaan: Mengapa sudah taat tetapi hidup tetap sulit? Mengapa sudah mendidik anak dengan agama, tetapi rezeki tidak juga lapang? Di titik inilah penting bagi kita untuk meluruskan cara pandang.
Memondokkan anak, menanamkan salat, serta mendidik mereka agar
berbakti kepada orang tua bukanlah investasi untuk ditukar dengan kelapangan
rezeki. Semua itu adalah kewajiban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Ketika
ibadah dipahami sebagai transaksi, relasi spiritual berubah menjadi relasi
bisnis. Padahal Allah memberi dan menahan sesuai hikmah-Nya, bukan menurut
logika untung-rugi manusia. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, kemurnian
niat adalah inti seluruh amal. Dalam karyanya Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn, beliau
menegaskan bahwa nilai perbuatan ditentukan oleh orientasi hati. Dasarnya
adalah sabda Nabi ﷺ:
إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan
setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan”. [HR. Al-Bukhari no.
1 dan Muslim ibn al-Hajjaj no. 1907].
Imam Al-Ghazali juga menegaskan:
فالأعمال صور قائمة وأرواحها وجود سر الإخلاص
فيها
“Amal-amal itu hanyalah bentuk yang tampak, sedangkan ruhnya
adalah rahasia keikhlasan di dalamnya”. [Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn, 4, 382]
Artinya, amal yang tampak baik bisa kehilangan nilainya bila
dikerjakan demi tujuan duniawi. Sebaliknya, amal sederhana menjadi agung ketika
diniatkan semata-mata karena Allah. Sejalan dengan itu, Ibn Qayyim
al-Jawziyyah dalam kitab Madārij al-Sālikīn menjelaskan:
فمن عبد الله لأجل عطائه ومنعه فعبادته معلولة
وأما من عبده حبًّا له وتعظيمًا له فذلك هو العبد حقًّا
“Siapa yang beribadah karena berharap pemberian atau takut
kehilangan dunia, maka ibadahnya masih bercampur motif. Adapun yang beribadah
karena cinta dan pengagungan kepada-Nya, dialah hamba sejati”.
Jika ketaatan dijalankan hanya demi kelancaran rezeki, maka saat
rezeki terasa sempit, semangat ibadah pun mudah melemah. Namun hati yang
beribadah karena cinta, akan tetap teguh dalam keadaan lapang maupun sempit. Rezeki
yang lapang bukanlah upah yang wajib diberikan atas ibadah, melainkan anugerah pemberian
Allah sesuai hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Kasih sayang-Nya tidak selalu dapat
dihitung dengan rumus manusia, sebab orientasi utama ibadah bukanlah dunia,
melainkan Allah sendiri sebagai tujuan tertinggi penghambaan. Sebab
sejatinya, kebaikan tidak selalu dibalas dengan kemudahan dunia, tetapi pasti
dibalas dengan kebaikan yang Allah janjikan, baik yang terlihat maupun yang
tersimpan untuk kehidupan akhirat.
Balasan Allah tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan, dan apa yang kita harapkan sebagai bentuk kelemahan dan pasrah kepada Allah. Nah, harapan ini tidak pernah sia-sia. Karena itu, mari luruskan niat dalam mendidik anak dan menjalankan ibadah. Berdoa dan pasrah memang perintah Allah, bukan karena berharap imbalan. Tunaikan kewajiban, karena Allah memang layak untuk ditaati, bukan karena dunia ingin diraih. Ketika kewajiban dijalankan dengan ikhlas, tanpa perhitungan dan tanpa syarat, di situlah letak nilai ibadah yang sesungguhnya. Hati menjadi lebih tenang, ketaatan tidak mudah goyah, dan hidup tidak lagi diukur semata-mata oleh lapang atau sempitnya dunia melainkan oleh dekat atau jauhnya diri kita kepada Allah. [Barsoenie]
Oleh : Siti Aminah Ghaffar

.png)
.png)
.jpg)
