Rabu dan Shafar Bukan Bulan Sial: Meluruskan Mitos Jahiliyah dengan Keyakinan kepada Takdir Allah

 


Di kalangan Arab Jahiliyah, Hari Rabu dan Bulan Shafar identik dengan kesialan. Rabu bahkan dinamai Ad-Dubar yang berarti "Penghancur", dan mereka enggan memulai perjalanan atau kegiatan penting pada hari maupun bulan ini, terutama pada Rabu di penghujung Shafar. Anggapan semacam ini ternyata masih membekas pada sebagian umat Islam hingga sekarang.

Padahal anggapan tersebut tidak berdasar. Justru banyak peristiwa baik terjadi pada Hari Rabu dan Bulan Shafar. Nabi bersabda:

وَخُلِقَ النُّورُ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ

"Dan Allah menciptakan cahaya pada Hari Rabu." [HR Muslim]

Karena itu banyak ulama sengaja memulai kegiatan belajar-mengajar pada Hari Rabu, sebab ilmu diibaratkan cahaya. Hari Rabu juga menjadi salah satu waktu mustajab untuk berdoa, yaitu antara Shalat Dzuhur dan Ashar. Sahabat Jabir bin Abdullah ra bercerita bahwa Nabi pernah berdoa di Masjid Fath selama tiga hari berturut-turut, dan doa beliau dikabulkan tepat pada Hari Rabu di waktu itu, sehingga wajah beliau tampak berseri-seri. Jabir kemudian berkata, setiap kali menghadapi urusan penting, ia sengaja mencari waktu tersebut untuk berdoa dan doanya senantiasa dikabulkan (HR Ahmad, Baihaqi).

Bulan Shafar pun demikian. Dua pernikahan paling agung dalam sejarah Islam terjadi di bulan ini: pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah pada 25 Shafar, dan pernikahan Sayidina Ali dengan Sayidah Fatimah pada tahun kedua Hijriah. Hijrah Nabi yang penuh berkah dari Makkah pun dimulai di Bulan Shafar, begitu pula kemenangan besar umat Islam dalam Perang Khaibar.

Semua musibah dan kebaikan yang menimpa manusia sejatinya bukan karena hari atau bulan tertentu, melainkan atas ketentuan takdir Allah , sebagaimana firman-Nya:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya." [QS Al-Hadid: 22]

Sebagai penutup, keyakinan bahwa Hari Rabu atau Bulan Shafar membawa kesialan bukanlah ajaran Islam, melainkan warisan anggapan jahiliyah yang bertentangan dengan prinsip tauhid dan keimanan kepada takdir Allah. Seorang Muslim tidak semestinya menggantungkan nasib pada hari, tanggal, atau bulan tertentu, tetapi menyerahkan segala urusan kepada Allah dengan tetap berikhtiar, berdoa, dan bertawakal. Jika ada waktu yang dipandang baik, maka kebaikan itu bukan karena hari atau bulannya memiliki kekuatan khusus, melainkan karena Allah yang menetapkan keberkahan di dalamnya. Dengan demikian, jangan jadikan Shafar sebagai bulan ketakutan atau Rabu sebagai hari kesialan; jadikan setiap waktu sebagai kesempatan untuk mendekat kepada Allah, memperbanyak amal, dan meyakini bahwa tidak ada satu pun peristiwa di alam ini yang keluar dari ilmu, kehendak, dan ketetapan-Nya. [Aham]

 


0 Comments

Top