Ada satu
pertanyaan yang sering dilempar untuk menyerang tradisi Tahlilan: "Coba
tunjukkan, siapa Sahabat Nabi yang membaca tahlil untuk Nabi ketika beliau
wafat?" Pertanyaan ini kedengarannya masuk akal. Tapi kalau ditelusuri,
sebenarnya keropos dari dalam.
Pertanyaannya Salah Alamat
Begini
logikanya: Nabi wafat, dan bersamaan dengan itu syariat sudah sempurna dan
berhenti turun. Jadi mempertanyakan "siapa yang mentahlili Nabi" itu
seperti mempertanyakan sesuatu yang di luar konteks zamannya.
Lebih dari
itu, doa tahlil pada dasarnya dipanjatkan untuk keselamatan orang yang telah
wafat di alam kubur. Sementara status Nabi sebagai orang yang selamat itu sudah
jelas dan tidak diragukan. Jadi, tidak relevan mencari-cari siapa yang
membacakan tahlil untuknya.
Lalu, Bagaimana dengan Keluarga Nabi?
Muncul
pertanyaan susulan: kalau begitu, kenapa saat Sayidah Khadijah wafat, Nabi
sendiri tidak terlihat membaca tahlil untuknya? Jawabannya sederhana saja,
memang belum ditemukan riwayat spesifik soal itu.
Tapi, di
sinilah letak pertanyaan baliknya: bagaimana jika ternyata ada riwayat lain
yang menunjukkan Nabi membaca kalimat-kalimat zikir, termasuk tahlil, untuk
seorang Sahabat yang wafat? Apakah itu akan diterima sebagai dalil?
Sayangnya,
biasanya jawabannya tidak. Bukan karena hadisnya lemah, tapi karena sebagian
orang hanya mau menerima dalil dari ustaz rujukan mereka, bukan langsung dari
Nabi. Ini justru menunjukkan pola yang agak ironis: mengaku ingin mengikuti
Nabi, tapi pada praktiknya lebih setia pada pendapat gurunya.
Riwayat yang Sering Diabaikan
Ada peristiwa
menarik saat pemakaman Sa'ad bin Mu'adz, salah satu Sahabat mulia. Diriwayatkan
bahwa Nabi mengucapkan rangkaian kalimat thayyibah di sisi kuburannya, mencakup
takbir, tahlil, dan tasbih. Para Sahabat yang menyaksikan bahkan terkejut
karena belum pernah melihat Nabi melakukan itu sebelumnya.
Ketika
ditanya alasannya, Nabi menjelaskan bahwa kuburan itu terasa begitu sempit
hingga seperti sehelai rambut, dan beliau berdoa memohon kelapangan untuknya. [HR.
Al-Hannad bin As-Sari, Az-Zuhd]. Berikut redaksi hadisnya,
فَجَعَلَ يُكَبِّرُ وَيُهَلِّلُ
وَيُسَبِّحُ، فَلَمَّا خَرَجَ قِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللهِ مَا رَأَيْنَاكَ
صَنَعْتَ مِثْلَ هَذَا قَطُّ. قَالَ: إِنَّهُ ضُمَّ فِي الْقَبْرِ ضَمَّةً حَتَّى
صَارَ مِثْلَ الشَّعْرَةِ، فَدَعَوْتُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُرَفِّهَ عَنْهُ
Ada juga
riwayat serupa dari jalur lain, dari Jabir bin Abdillah, yang menceritakan
momen yang hampir sama: usai pemakaman Sa'ad bin Mu'adz, Nabi membaca tasbih
cukup lama, lalu diikuti takbir bersama para Sahabat. Saat ditanya, Nabi
menjawab bahwa kuburan hamba yang saleh itu sempat menyempit, hingga Allah
melapangkannya. [HR. Ahmad, Musnad Ahmad]. Berikut teks hadisnya,
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ
الْأَنْصَارِيِّ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَوْمًا إِلَى سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ حِينَ تُوُفِّيَ، قَالَ: فَلَمَّا
صَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُضِعَ فِي
قَبْرِهِ وَسُوِّيَ عَلَيْهِ، سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، فَسَبَّحْنَا طَوِيلًا، ثُمَّ كَبَّرَ فَكَبَّرْنَا، فَقِيلَ: يَا
رَسُولَ اللهِ، لِمَ سَبَّحْتَ؟ ثُمَّ كَبَّرْتَ؟ قَالَ: لَقَدْ تَضَايَقَ عَلَى
هَذَا الْعَبْدِ الصَّالِحِ قَبْرُهُ حَتَّى فَرَّجَهُ اللهُ عَنْهُ
Soal Keabsahan Riwayatnya
قُلْتُ: رِجَالُ الْإِسْنَادَيْنِ
ثِقَاتٌ، وَابْنُ إِسْحَاقَ قَدْ رَوَاهُ بِصِيغَةِ التَّحْدِيثِ فَانْتَفَتْ
تُهْمَةُ التَّدْلِيسِ، وَمُعَاذُ بْنُ رِفَاعَةَ قَدْ سَمِعَ مِنْ جَابِرٍ
بِغَيْرِ وَاسِطَةٍ
Kalau ada
yang meragukan kualitas riwayat ini, ada penjelasan dari Syekh Qadhi
Shibghatullah yang menyebut bahwa para perawi di kedua jalur riwayat tersebut
adalah orang-orang yang terpercaya. Bahkan tuduhan adanya manipulasi sanad pun
gugur, karena salah satu perawi kunci meriwayatkan langsung tanpa perantara. [Qadhi
Shibghatullah, Dzail Qaul Al-Musaddad, 1/80]
إِسْنَادُهُ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ
ابْنِ إِسْحَاقَ، وَمَحْمُودٌ - وَيُقَالُ: مُحَمَّدٌ - بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
لَمْ يَرْوِ عَنْهُ غَيْرُ مُعَاذِ بْنِ رِفَاعَةَ، وَوَثَّقَهُ أَبُو زُرْعَةَ
كَمَا فِي "الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ" ٧/٣١٦، وَذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ
فِي "الثِّقَاتِ" ٥/٣٧٣
Kalau
dianggap penilaian ini masih subjektif dari kalangan tertentu, ada juga
penilaian dari kalangan yang justru sering dijadikan rujukan oleh kelompok yang
kritis terhadap Tahlilan sendiri. Syekh Syu'aib Al-Arnauth, seorang ahli hadis,
menilai sanad riwayat dari Musnad Ahmad ini berstatus hasan, dengan
alasan bahwa salah satu perawinya dinilai terpercaya oleh Abu Zur'ah dan juga
tercatat dalam kitab Ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban. [Syu'aib Al-Arnauth,
takhrij dalam Musnad Ahmad]
Jadi, Apa Intinya?
Riwayat-riwayat
ini menunjukkan bahwa membaca kalimat zikir, termasuk tahlil, di sisi kuburan
bukan sesuatu yang asing dari praktik Nabi sendiri. Mungkin memang hanya
dilakukan sekali, dalam momen tertentu. Tapi satu kali contoh dari Nabi sudah
cukup untuk menjadi dasar bahwa amalan itu bukan sesuatu yang mengada-ada.
Pada
akhirnya, perdebatan semacam ini sering berputar di titik yang sama: bukan soal
ada atau tidaknya dalil, tapi soal kesediaan untuk menerima dalil itu ketika
sudah ditunjukkan. Wallahu A`lam [Aham]


0 Comments