Masih Relevankah Keberadaan Allah di Era Digital?

Era digital telah membawa umat manusia menuju puncak kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), internet, dan eksplorasi kosmos menjadi bukti betapa cepatnya peradaban manusia berkembang. Namun, di tengah arus rasionalisme dan sains modern, perdebatan klasik tentang keberadaan Tuhan tetap hangat diperbincangkan.

Salah satu tokoh terkemuka yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan adalah fisikawan kenamaan, Stephen Hawking. Dalam bukunya The Grand Design, Hawking menyatakan bahwa "Tidak perlu Tuhan untuk menyalakan sumbu dan menciptakan alam semesta." Dan dalam bukunya pula yang berjudul Brief Answers to the Big Questions. Beliau berargumen “Hukum-hukum alam itu tetap dan pasti, maka tidak butuh waktu lama untuk mulai bertanya: apa peran Tuhan?”

Imam Al-Ghazali berpendapat dalam kitabnya Al-Iqtishād fī Al-I‘tiqād:

كُلُّ حَادِثٍ فَلْحُدُوْثُهُ سَبَبٌ وَالْعَالَمُ حَادِثٌ فَيَلْزَمُ مِنْهُ إِنَّ لَهُ سَبَابًا وَنَعْنِيْ بِالْعَالَمِ كُلُّ مَوْجُدٌ سِوَى اللهُ تَعاَلَى

Artinya: Sesungguhnya segala sesuatu yang memiliki permulaan pasti ada yang mengadakannya. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa Alam ini memiliki permulaan dan pasti memiliki pencipta. Yang dimaksud dengan Alam di sini adalah segala sesuatu yang ada selain Allah SWT."

Pendapat Imam Ghozali ini bisa dinalar dengan mudah bahkan oleh orang yang awam sekalipun, dalam contoh jika kita berjalan di kota-kota besar yang di sana banyak bangunan yang megah dan mewah pasti dalam akal kita tergambar pertanyaan “siapakah arsitek daripada bangunan yang megah ini?” karena secara naluri, kita pasti berpendapat bahwa setiap sesuatu yang diciptakan pasti ada yang menciptakan.

Penjelasan yang lebih detail dikemukakan oleh Imam As-Sanusi dalam kitabnya Syarhul Muqoddimat yang menerangkan tentang Al-Maujudat Beliau menjelaskan bahwa:

قِسْمٌ غَنِيٌّ عَنِ الْمَحَلِّ وَالْمُخَصِّصِ وَهُوَ ذَاتُ مَوْلَانا جَلَّ وَعَلَا

Artinya : Satu bagian yang tidak membutuhkan terhadap dzat lain yang mendesain adalah Allah SWT.

Dalam kitab tersebut beliau menjelaskan bahwa selain daripada Allah SWT di alam semesta ini masih butuh terhadapa dzat lain dan juga butuh terhadap pencipta atau desaigner. Mengapa demikian?! permisalannya ketika kita melakukan aktifitas menulis melalui komputer atau laptop disaat jari kita menekan huruf A di keyboard kemudian secara otomatis huruf A terlihat di layar komputer atau laptop kita, apakah itu semua terjadi secara kebetulan? Tentu tidak adalah jawaban yang spontan keluar dari akal kita. Pasti dalam benak pikiran kita ada seseorang yang melakukan program tersebut secara mendetail di papan keyboard dan di layar komputer maupun laptop.

Seperti halnya yang kita ketahui tentang api, bahwa api itu panas dan membakar. Namun dalam salah satu kejadian yang populer, yaitu kisah Baginda Nabi Ibrahaim tatkala dibakar dalam tumpukan kayu yang banyak oleh kaum Babilonia, api tersebut membakar hangus tak tersisa tumpukan kayu di sekililingnya sedangkan Nabi Ibrahim tidak meninggalkan luka bakar bahkan rasa panaspun tidak dirasakan oleh beliau, karena pada waktu itu api hanya diprogram panas dan membakar terhadap tumpukan kayu sedangkan diprogram tidak panas dan membakar kepada Nabi Ibrahim semata oleh Allah SWT.

Begitu juga dengan keadaan alam semesta ini, setiap perkembangan teknologi dan eksplorasi kosmos justru memperkuat keyakinan bahwa di balik keteraturan dan kompleksitas yang luar biasa dalam kehidupan alam semesta ini, ada kekuatan yang lebih tinggi dalam mengendalikannya. Dengan demikian, ketika kita hidup di era digital yang serba rasional, keberadaan Allah sebagai Pencipta yang mengatur segala sesuatu dengan sempurna semakin terbukti dan relevan sebagai dasar dari segala sesuatu yang ada.* [Barsoenie]

*Oleh: Hasan Barsuni A.R.

0 Comments

Top