Sebagian besar orang mengenal Ibnu Taymiyah sebagai sosok yang keras,
tajam dalam mengkritik, dan punya posisi berseberangan dengan banyak kelompok
dalam Islam — termasuk Asy'ariyah. Nama beliau kerap disebut dalam perdebatan
akidah, dan biasanya dengan satu narasi yang seragam: Ibnu Taymiyah lawan
Asy'ariyah. Asy'ariyah = ahlut ta'thil = Jahmiyah. Titik.
Tapi benarkah
sesederhana itu?
Ternyata tidak. Kalau kita mau sedikit repot membuka kitab-kitab Ibnu
Taymiyah sendiri — bukan sekadar mengutip potongan yang sudah beredar — ada
gambaran yang sama sekali berbeda. Gambaran seorang ulama yang jauh lebih luas,
lebih jujur, dan bahkan lebih rendah hati dari yang selama ini dicitrakan.
Mari mulai dari tuduhan yang paling sering dilontarkan: bahwa Asy'ariyah
adalah ahlut ta'thil, penganut paham Jahmiyah yang menolak sifat-sifat
Allah. Tuduhan ini seringkali dibungkus dengan klaim bahwa Imam Asy'ari
sendiri, terutama di fase kedua pemikirannya, mengikuti Ibnu Kullab yang
dianggap masih "sesat".
Nah, apa kata Ibnu Taymiyah sendiri soal ini? Dalam Majmu' al-Fatawa
(12/202), beliau menulis:
لَا
رَيْبَ أَنَّ قَوْلَ ابْنِ كُلَّابٍ وَالْأَشْعَرِيِّ وَنَحْوِهِمَا مِنْ
الْمُثْبِتَةِ لِلصِّفَاتِ لَيْسَ هُوَ قَوْلَ الْجَهْمِيَّة بَلْ وَلَا
الْمُعْتَزِلَةِ بَلْ هَؤُلَاءِ لَهُمْ مُصَنَّفَاتٌ فِي الرَّدِّ عَلَى
الْجَهْمِيَّة وَالْمُعْتَزِلَةِ وَبَيَانِ تَضْلِيلِ مَنْ نَفَاهَا بَلْ هُمْ
تَارَةً يُكَفِّرُونَ الْجَهْمِيَّة وَالْمُعْتَزِلَةَ وَتَارَةً
يُضَلِّلُونَهُمْ. لَا سِيَّمَا وَالْجَهْمُ هُوَ أَعْظَمُ النَّاسِ نَفْيًا
لِلصِّفَاتِ بَلْ وَلِلْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى
Ibnu Taymiyah
di sini menegaskan dengan sangat gamblang: Ibnu Kullab dan Al-Asy'ari termasuk
golongan mutsbitun — orang-orang yang menetapkan sifat Allah. Keduanya
bukan Jahmiyah, bukan Muktazilah. Bahkan keduanya menulis karya-karya khusus
untuk membantah dua kelompok itu, dan kadang mengafirkan mereka, kadang sekadar
menyesatkan. Jelas sekali ini berbeda dari klaim bahwa Asy'ariyah dan Jahmiyah
itu satu kubu.
Lebih jauh, dalam Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah (2/222), Ibnu Taymiyah
menulis:
ثُمَّ
الْمُثْبِتُونَ لِلصِّفَاتِ مِنْهُمْ مَنْ يُثْبِتُ الصِّفَاتِ الْمَعْلُومَةَ
بِالسَّمْعِ، كَمَا يُثْبِتُ الصِّفَاتِ الْمَعْلُومَةَ بِالْعَقْلِ، وَهَذَا
قَوْلُ أَهْلِ السُّنَّةِ الْخَاصَّةِ – أَهْلِ الْحَدِيثِ وَمَنْ وَافَقَهُمْ – وَهُوَ قَوْلُ أَئِمَّةِ الْفُقَهَاءِ وَقَوْلُ أَئِمَّةِ
الْكَلَامِ مِنْ أَهْلِ الْإِثْبَاتِ، كَأَبِي مُحَمَّدِ بْنِ كُلَّابٍ وَأَبِي الْعَبَّاسِ
الْقَلَانِسِيِّ وَأَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيِّ وَأَبِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُجَاهِدٍ
وَأَبِي الْحَسَنِ الطَّبَرِيِّ وَالْقَاضِي أَبِي بَكْرِ بْنِ الْبَاقِلَّانِيِّ،
وَلَمْ يَخْتَلِفْ فِي ذَلِكَ قَوْلُ الْأَشْعَرِيِّ وَقُدَمَاءِ أَئِمَّةِ
أَصْحَابِهِ.
Di sini Ibnu
Taymiyah menyebut nama-nama besar Asy'ariyah — Ibnu Kullab, Al-Qalanisi, Abu
Hasan al-Asy'ari, Al-Baqillani — sebagai bagian dari ahlul itsbat yang
menetapkan sifat Allah berdasarkan dalil naqli maupun aqli. Ia bahkan secara
eksplisit menyatakan bahwa pendapat Al-Asy'ari dan para imam Asy'ariyah
generasi awal tidak saling berbeda dalam perkara ini. Ini adalah pernyataan
pembelaan, bukan serangan.
Namun ada kisah yang lebih menarik, yang jarang sekali muncul dalam
ceramah-ceramah tentang Ibnu Taymiyah.
Kisah itu tentang pertemuannya dengan Imam Alauddin al-Baji, seorang
tokoh besar Asy'ariyah-Syafi'iyah. Kalau Ibnu Taymiyah benar-benar yakin
dirinya paling benar dan Asy'ariyah salah total, tentu ini adalah kesempatan
emas untuk unjuk gigi. Yang terjadi justru sebaliknya.
Dalam
Thabaqat al-Syafi'iyah al-Kubra karya Al-Subki (10/342), tercatat:
وَكَانَ
إِلَيْهِ مرجع المشكلات ومجالس المناظرات وَلما رَآهُ ابْن تَيْمِية عظمه وَلم يجر
بَين يَدَيْهِ بِلَفْظَة فَأخذ الشَّيْخ عَلَاء الدّين يَقُول تكلم نبحث مَعَك
وَابْن تَيْمِية يَقُول مثلي لا يتكلم بَين يَديك أَنا وظيفتي الاستفادة مِنْك
Ketika
bertemu Al-Baji, Ibnu Taymiyah mengagungkannya dan tidak berkata sepatah kata
pun di hadapannya. Sampai-sampai Al-Baji sendiri yang mengajak duluan:
"Bicaralah, biarkan kami membahas bersamamu." Ibnu Taymiyah menjawab:
"Orang sepertiku tidak layak berbicara di hadapanmu. Tugasku adalah
mengambil faidah darimu."
Bayangkan. Ibnu Taymiyah — yang kata banyak pengikutnya adalah puncak
keilmuan dan keberanian intelektual — berkata seperti itu kepada seorang ulama
Asy'ariyah.
Kisah ini
dikonfirmasi langsung oleh Al-Baji dalam al-Durar al-Kaminah (4/121):
أَن
ابْن تَيْمِية لما دخل الْقَاهِرَة حضرت فِي الْمجْلس الَّذِي عقدوه لَهُ فَلَمَّا
رَآنِي قَالَ هَذَا شيخ الْبِلَاد فَقلت لَا تطرئنى مَا هُنَا إِلَّا الْحق
وحاققته على أَرْبَعَة عشر موضعا فَغير مَا كَانَ كتب بِهِ خطه
Al-Baji
bercerita: “Ketika Ibnu Taymiyahmemasuki kota Kairo, aku hadir di majlis yang
dipersiapkan untuknya. Ketika ia melihatku, ia berkata: “Inilah Syaikh negeri
ini”. Aku berkata: “Jangan berlebihan memujiku, di sini tak ada apapun kecuali
kebenaran”. Kemudian aku mengoreksinya dalam 14 tempat lalu ia mengubah apa
yang sudah ia tulis sendiri”
Dan inilah bagian yang paling mengejutkan, yang nyaris tidak pernah
disebut dalam diskusi-diskusi tentang Ibnu Taymiyah di kalangan Salafi
kontemporer.
Ibnu Taymiyah pernah menyatakan, secara tertulis, dengan tangan
sendiri: "Aku adalah seorang Asy'ariy."
Pernyataan ini bukan dari musuh-musuhnya. Ini tercatat dalam al-Durar
al-Kaminah (1/172) sebagai bagian dari dokumen tobat resmi yang dibacakan di
hadapan para ulama:
وَوَقع الْبَحْث مَعَ بعض الْفُقَهَاء فَكتب عَلَيْهِ محْضر بِأَنَّهُ قَالَ أَنا أشعري ثمَّ وجد خطه بِمَا نَصه الَّذِي اعْتقد أَن الْقُرْآن معنى قَائِم بِذَات الله وَهُوَ صفة من صِفَات ذَاته الْقَدِيمَة وَهُوَ غير مَخْلُوق وَلَيْسَ بِحرف وَلَا صَوت وَأَن قَوْله {الرَّحْمَن على الْعَرْش اسْتَوَى} لَيْسَ على ظَاهره وَلَا أعلم كنه المُرَاد بِهِ بل لَا يُعلمهُ إِلَّا الله وَالْقَوْل فِي النُّزُول كالقول فِي الاسْتوَاء وَكتبه أَحْمد بن تَيْمِية ثمَّ أشهدوا عَلَيْهِ أَنه تَابَ مِمَّا يُنَافِي ذَلِك مُخْتَارًا
Dalam tulisan
tangan beliau itu, tercantum keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah makna yang
menetap dalam dzat Allah, bukan berupa huruf dan bukan suara — ini posisi
teologis khas Asy'ariyah. Ia juga menyatakan bahwa ayat ar-Raḥmānu ‘alā
al-‘Arsyi istawā tidak dipahami secara lahiriyah, dan hakikatnya hanya
Allah yang tahu. Soal nuzul pun disamakan dengan soal istiwa'. Ahmad Ibnu
Taymiyah menulis pengakuan ini lalu para ulama yang hadir menyaksikan
tobatnya secara sukarela dari segala hal yang bertentangan dengan pernyataan
tersebut.
Dokumen tobat Ibnu Taymiyah — yang mencakup masalah akidah maupun fikih
— tercatat terjadi beberapa kali, dan semuanya bisa dilacak dalam kitab-kitab
tarikh dan biografi ulama.
Lalu ada satu
pernyataan lagi yang tak kalah menarik, kali ini dari Majmu' al-Fatawa (6/53):
فَإِنَّ الْأَشْعَرِيَّ مَا كَانَ يَنْتَسِبُ إلَّا إلَى مَذْهَبِ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَإِمَامُهُمْ عَنْهُ أَحْمَد بْنُ حَنْبَلٍ … وَ الْأَشْعَرِيَّةُ فِيمَا يُثْبِتُونَهُ مِنْ السُّنَّةِ فَرْعٌ عَلَى الْحَنْبَلِيَّةِ كَمَا أَنَّ مُتَكَلِّمَةَ الْحَنْبَلِيَّةِ – فِيمَا يَحْتَجُّونَ بِهِ مِنْ الْقِيَاسِ الْعَقْلِيِّ – فَرْعٌ عَلَيْهِمْ
Ibnu Taymiyah
di sini menyebut bahwa Al-Asy'ari sejatinya berafiliasi pada mazhab Ahlul
Hadis, dengan Ahmad bin Hanbal sebagai imamnya. Lebih jauh, ia menggambarkan
hubungan Asy'ariyah dan Hanbaliyah bukan sebagai permusuhan, melainkan saling
melengkapi: Asy'ariyah dalam menetapkan sunnah adalah cabang dari Hanbaliyah,
dan ahli kalam Hanbaliyah dalam berargumen secara rasional adalah cabang dari
Asy'ariyah.
Semua ini bukan berarti Ibnu Taymiyah tidak punya kritik terhadap
sebagian perkembangan belakangan dalam Asy'ariyah — beliau punya, dan cukup
tajam. Tapi itu soal yang berbeda. Yang perlu diperhatikan adalah: narasi bahwa
"Ibnu Taymiyah vs Asy'ariyah" adalah pertarungan mutlak antara yang
benar dan yang sesat, ternyata tidak didukung oleh tulisan Ibnu Taymiyah
sendiri.
Ironi terbesar mungkin ini: sebagian orang mengaku mengikuti Ibnu
Taymiyah, tapi justru menolak apa yang Ibnu Taymiyah sendiri katakan tentang
Asy'ariyah. [Aham]


0 Comments