Akidah tentang Allah Menurut Metode Syekh Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb dalam Kitab At-Tauḍīḥ

 


Syekh Sulaimān bin ‘Abdullāh bin Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb, yang merupakan cucu dari Syekh Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb (pendiri gerakan Wahhabi), telah menulis sebuah kitab berjudul At-Tauḍīḥ ‘an Tauḥīdil Khallāq fī Jawābi Ahlil ‘Irāq (التوضيح عن توحيد الخلاق في جواب أهل العراق). Kitab ini memuat penjelasan-penjelasan mengenai akidah berdasarkan metode kakek beliau, yakni Syekh Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb sendiri.

Salah satu isi penting dalam kitab tersebut adalah pernyataan bahwa Allah tidak bertempat. Pernyataan tersebut dapat disaksikan dalam tangkapan layar kitab yang terlampir. Adapun bunyi pernyataan lengkapnya adalah sebagai berikut:

وَمُنَزَّهٌ تَعَالَى عَنْ سِمَاتِ أَيْ عَلَامَاتِ النَّقْصِ، فَهُوَ تَعَالَى لَا تَحُلُّهُ الْحَوَادِثُ وَلَا يَحُلُّ فِي حَادِثٍ وَلَا يَنْحَصِرُ فِيهِ. فَمَنِ اعْتَقَدَ أَوْ قَالَ أَنَّ اللَّهَ بِذَاتِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ أَوْ فِي مَكَانٍ فَكَافِرٌ، بَلْ يَجِبُ الْجَزْمُ بِأَنَّهُ تَعَالَى بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ مِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلَا تَشْبِيهٍ وَلَا تَمْثِيلٍ، فَاللَّهُ تَعَالَى كَانَ وَلَا مَكَانَ، ثُمَّ خَلَقَ الْمَكَانَ، وَهُوَ تَعَالَى كَمَا كَانَ قَبْلَ خَلْقِ الْمَكَانِ، وَلَا يُعْرَفُ بِالْحَوَاسِّ وَلَا يُقَاسُ بِالنَّاسِ، وَلَا مَدْخَلَ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ لِلْقِيَاسِ.

"Allah Mahasuci dari tanda-tanda kekurangan. Allah Ta‘ālā tidak ditempati oleh hal-hal yang baharu (mempunyai permulaan), tidak bertempat pada sesuatu yang baharu, dan tidak pula terbatas di dalamnya. Maka, barang siapa yang meyakini atau menyatakan bahwa Allah dengan Żāt-Nya berada di segala tempat atau berada di satu tempat tertentu, maka ia telah kafir. Bahkan, wajib dipastikan secara tegas bahwa Allah Ta‘ālā berbeda dari makhluk-Nya, ber-istiwā’ di atas ‘Arasy-Nya tanpa menetapkan kaifiyyah (tata cara), tanpa penyerupaan (tasybīh), dan tanpa penyamaan (tamṡīl). Allah Ta‘ālā telah ada sebelum adanya tempat, kemudian Dia menciptakan tempat, dan keadaan-Nya tetap sebagaimana sediakala sebelum tempat itu diciptakan (yakni tidak bertempat). Allah tidak dapat dikenal melalui pancaindra, tidak dapat dianalogikan dengan manusia, dan sama sekali tidak terdapat celah bagi analogi (qiyās) terhadap Żāt, Ṣifāt, maupun Af‘āl-Nya."

Pernyataan Syekh Sulaimān ini menunjukkan perbedaan yang kontras dengan akidah Wahhābi-Taimiy yang banyak beredar pada masa kini. Justru, isi pernyataan tersebut selaras dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamā‘ah (Asy‘ariyyah-Māturīdiyyah). Sebagian pengkaji dari kalangan Wahhābi meragukan penisbatan kitab ini kepada Syekh Sulaimān selaku cucu Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb, dan lebih cenderung menganggapnya sebagai karya Syekh Muḥammad bin ‘Alī bin Gharīb, salah seorang murid Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb.

Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai status penulisnya—apakah ditulis oleh cucu beliau sendiri atau oleh murid langsungnya—isi kandungan kitab tersebut secara meyakinkan dinisbatkan kepada ajaran Syekh Muḥammad bin ‘Abdul Wahhāb. Penulis berharap agar keterangan ini benar-benar mencerminkan akidah beliau yang sesungguhnya.

Semoga bermanfaat.* [Aham]

*Oleh: Dr. KH. Abdul Wahab Ahmad, M.H.I

0 Comments

Top