وَأَوَّلُ ٱلْوَاجِبَاتِ مَعْرِفَةُ ٱلرَّبِّ – جَلَّ
جَلَالُهُ – وَٱعْتِقَادُ وُجُوبِ وُجُودِهِ، وَفَرْدَانِيَّتِهِ، وَقِدَمِهِ،
وَعَدَمُ شَبَهِهِ وَمِثْلِهِ، وَأَنَّهُ لَمْ يَزَلْ بِأَسْمَائِهِ، وَصِفَاتِ
ذَاتِهِ، وَعِلْمِهِ بِٱلْأَمْرِ كُلِّيِّهِ وَجُزْئِيِّهِ، وَأَنَّهُ تَعَالَى
أَرْسَلَ رُسُلَهُ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِتَنْقَطِعَ ٱلْحُجَّةُ،
وَتَتَضِحَ ٱلْمَحَجَّةُ، وَٱلْإِيمَانُ بِٱلْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، حُلْوِهِ
وَمُرِّهِ، وَبِٱلْغَيْبِ، وَهُوَ كُلُّ مَا غَابَ عَنَّا وَأَخْبَرَ بِهِ ٱلصَّادِقُ
مِنْ أَحْوَالِ ٱلْبَرْزَخِ وَٱلْحَشْرِ وَٱلْجَزَاءِ وَٱلْعِقَابِ وَٱلْجَنَّةِ
وَٱلنَّارِ، وَلَا نُكَفِّرُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ ٱلْقِبْلَةِ بِذَنْبٍ، وَلَا
يُخَلَّدُ، وَنُمْسِكُ عَمَّا شَجَرَ بَيْنَ ٱلصَّحَابَةِ، وَنُؤَوِّلُ مَا صَحَّ
عَنْهُمْ بِإِحْسَانٍ. بَوَّأَنَا وَإِيَّاهُمُ ٱلْجِنَانَ.
“Kewajiban pertama adalah mengenal Tuhan – Maha Suci dan Maha Agung – serta meyakini keniscayaan eksistensinya, keesaan-Nya, keazalian-Nya, dan tidak ada yang menyerupai atau sebanding dengan-Nya. Meyakini bahwa Dia senantiasa ada dengan nama-nama-Nya, sifat-sifat zat-Nya, dan ilmu-Nya terhadap segala urusan, baik yang menyeluruh maupun yang rinci. Meyakini bahwa Dia – Maha Tinggi – telah mengutus para rasul-Nya sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan agar hujjah menjadi terputus dan jalan menjadi jelas. Dan beriman kepada takdir, baik dan buruknya, manis dan pahitnya, serta kepada hal-hal gaib, yaitu segala yang tersembunyi dari kita dan diberitakan oleh yang jujur, seperti keadaan alam barzakh, hari kebangkitan, pembalasan, hukuman, surga dan neraka. Kita tidak mengkafirkan seorang pun dari ahli kiblat karena dosa, dan tidak menganggap mereka kekal di neraka. Kita menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara para sahabat, dan menakwil riwayat yang sahih dari mereka dengan cara yang baik. Semoga Allah menempatkan kita dan mereka di surga.” [Ibnu al-Mulaqqin, Al-Tadzkirah fī al-Fiqh al-Shāfi‘ī]
Beberapa kitab fikih membahas
akidah secara ringkas di bagian awal, misalnya kitab Tadzkirah ini. Ini adalah
isyarat bahwa sebelum berfikir harus terlebih dahulu berakidah yang lurus.* [Aham]
*Dr. KH. Abdul Wahab Ahmad, M.H.I
.png)

0 Comments