Objektivitas Akan Melemah Jika Didasari Oleh Rasa Benci

Secara ideal, keputusan diambil berdasarkan data yang sesuai dengan realita. Oleh karena itu, Seseorang akan dinilai adil dalam memutuskan sesuatu apabila didasari oleh data fakta tersebut. Sebaliknya Ia akan dicap sembrono atau tidak adil ketika membuat keputusan menggunakan sisi emosionalnya. Hal ini lumrah terjadi, mengingat manusia bukanlah robot. Kita adalah makhluk ciptaan Allah yang dibekali sifat emosional. Tak jarang, manusia sering kali tidak objektif menilai sesuatu ketika dirinya diselimuti oleh rasa benci.

Secara psikologis, rasa benci yang dijadikan fondasi dalam menilai sesuatu akan menimbulkan dua hal. Pertama, otak kita secara otomatis akan selalu mencari kesalahan. Kita hanya akan fokus terhadap informasi yang memperkuat rasa benci kepada sesuatu yang kita nilai. Kedua, akan mengabaikan setiap kebaikan yang ada. Kita cenderung menutup mata terhadap informasi positif tentang nya, meskipun informasi tersebut valid.

Ada banyak contoh mengenai rasa benci yang telah menyelimuti seseorang hingga dia tidak objektif dalam menilai sesuatu. Salah satu contohnya adalah ketika orang Salafi Wahabi yang  notabene kita sebagai orang Asyʿariyyah membenci pendapat-pendapatnya mengkritik amaliyah para Nahḍiyyīn yang menyimpang seperti kritikan mereka perihal fenomena maniak kuburan. Sering kali kita temukan ada seseorang yang semangat berziarah ke makam para wali dengan tujuan bertabaruk namun Ia tidak bersemangat ketika diajak sholat berjamaah di Masjid, atau bahkan tidak melaksanakan sholat fardunya di perjalanan. Serta Ia beranggapan bahwa barokah itu hanya  ada di kuburan para Wali. Meskipun berziarah ke makam wali dengan niat bertabaruk itu Masyrūʿ, akan tetapi Ia tidak boleh berlebihan hingga melanggar syariat ketika bertabaruk di makam wali. Dikarenakan dari dulu Ia sudah ditanamkan rasa benci terhadap orang Salafi Wahabi, maka kritikan itu Ia tolak walaupun kritikan itu benar.

Kasus serupa juga pernah diulas di kitab ʿAqāʾid al-Asyāʿirah karya Dr. Shalahuddin Al-Idlibi. Di dalamnya, terdapat pembahasan mengenai tuduhan yang sering dialamatkan kepada kaum Asyʿarī, yaitu bahwa mereka mengkafirkan Ibnu Taimiyah dengan beberapa alasan. Padahal kenyataannya kaum Asyʿarī tidak pernah mengkafirkan siapapun selagi orang itu tidak mendustakan Nabi Muhammad SAW (Asyāʿirah tidak memiliki gen takfiri).

لَا نُكَفِّرُ اَحَدًا مِنْ اَهْلِ الْقِبْلَةِ

“Kami tidak mengkafirkan siapapun dari ahli kiblat”. [Syarḥ al-ʿAqīdah al-Ṭaḥāwiyyah, 218]

Salah satu alasan mereka “Salafi Wahabi” menuduh Asyāʿirah mengkafirkan Imam Ibnu Taimiyah adalah bersumber dari tulisan Imam Taqiyuddin Al-Hisni. Di dalam kitabnya, Beliau memang mengkafirkan Ibnu Taimiyah dengan beberapa alasan, akan tetapi tuduhan tersebut tidak mempresentasikan pandangan seluruh pengikut Asyāʿirah kepada Ibnu Taimiyah. Tuduhan yang di lontarkan oleh Imam Taqiyuddin kepada Ibnu Taimiyah tersebut tidak memiliki landasan yang kuat. Meskipun dalam banyak hal kaum Asyāʿirah banyak yang tidak setuju dengan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah, akan tetapi Asyāʿirah tidak sampai mengkafirkannya. Jika memang begitu, lantas mengapa Imam Taqiyuddin dengan gampangnya mengkafirkan Ibnu Taimiyah? Jawabannya karena ada rasa benci yang menyelimuti beliau kepada Ibnu Taimiyah sehingga sikap objektif menjadi lemah.

Salah satu alasan Imam Taqiyuddin Al-Hisni mengkafirkan Ibnu Taimiyah adalah sumber data yang dipakai oleh beliau didalam mengkafirkan Ibnu Taimiyah salah satunya berasal dari seorang yang tidak jelas bernama Abul Hasan Ali Dimasqi . cerita yang Beliau terima darinya banyak mengandung kedustaan. Contohnya kalimat nukilan yang isinya menuduh Ibn Taimiyah mengatakan :

وَاسَتَوَى الله عَلَى عَرْشِهِ كَاسْتِوَائِي هَذَا

“Allah ber-istiwa’ di atas Arsy seperti istiwa’nya ini.” [ʿAqāʾid al-Asyāʿirah, 15]

Meskipun Ibnu Taimiyah didalam banyak tulisannya mengesankan tasbih (menyerupakan Allah dengan makhluk), tetapi Beliau tidak pernah mengatakan kata كَاسْتِوَائِي هَذَا. Alasan kedua yaitu Imam Taqiyuddin Al-hisni menukil dari Abu Hayyan ketika menafsiri ayat di bawah ini

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

 “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” [QS. Al-Baqarah: 255]

Kemudian Abu Hayan menukil dari tulisan Ibnu Tamiyah dalalam kitab al ʿArsy bahwa:

اِِنَّ اللهَ يَجْلِسُ عَلَى اْلكُرْسِي , وَقَدْ اَخْلَى مَكَانًا يَقْعُدُ مَعَهُ فِيْهِ رَسُوْلُ الله          

“Allah duduk diatas kursi, dan masih ada di tempat kosong di samping-Nya yang bisa diduduki Rasulullah SAW.” [ʿAqāʾid al-Asyāʿirah, 14]

Pernyataan Ibnu Taimiyah tersebut memang agak nyeleweng, akan tetapi tidak sampai membuat Beliau menjadi kafir.

Itulah beberapa contoh kasus yang menunjukan bahwa menilai sesuatu tidak akan bisa objektif apabila didasari oleh rasa benci. Oleh karena itu, kita harus membiasakan diri untuk bersikap tenang, tidak emosi ketika hendak menilai sesuatu. [Barsoenie]

Oleh: Muhammad Kholili


0 Comments

Top