Mengejar Barokah: Bukan Tentang Jumlah Tetapi Tentang Nilai

Barokah dapat diartikan sebagai nikmat, kebahagiaan dan karunia. Menurut Imam Al-Ghazali: Barokah adalah Ziyādatul Khair, yaitu bertambahnya kebaikan. Menurut Imam Syamsuddin al- Sakhawi, barokah adalah:

اَلْمُرَادُ بِالْبَرَكَةِ النُّمُوُّ وَالزِّيَادَةُ مِنَ الْخَيْرِ وَالْكَرَامَةِ

“Yang dimaksud dengan barokah adalah berkembang dan bertambahnya kebaikan dan kemuliaan.” [Al-Qawl al-Badī’fī al-Shalāh ‘alā al-Habīb al-Syafī‘, 91]

Keberkahan adalah karunia dari Allah SWT yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia, baik secara materi maupun nonmateri. Banyak orang terjebak dalam angka: ingin gaji besar, rumah mewah, atau waktu senggang yang banyak. Namun, sering kali meskipun angka tersebut tercapai, hati tetap merasa kurang. Di sinilah pentingnya memahami konsep barokah. Rahasia atau inti dari barokah bukan terletak pada jumlahnya, melainkan pada kualitas dan kemanfaatannya.

Keberkahan ini bukan sekadar istilah dalam agama, melainkan kualitas hidup yang dapat dirasakan dalam beberapa keadaan, seperti:

  • Barokah dalam rezeki bukan soal nominal, tetapi kecukupan. Rezeki yang berkah adalah Ketika jumlah yang sedikit terasa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, memberikan ketenangan, dantetap bisa digunakan untuk berbagi atau bersedekah.
  • Barokah dalam waktu, yaitu waktu yang produktif untuk kebaikan. Seseorang mungkin sangat sibuk, namun tetap sempat melaksanakan ibadah, belajar, serta berkumpul dengan keluarga, saudara, dan teman tanpa merasa terbebani.
  • Barokah dalam keluarga, yakni terciptanya suasana rumah tangga yang damai, di mana anggota keluarga saling mendukung dalam ketaatan kepada Allah.

Bagaimana cara memperoleh keberkahan itu? Keberkahan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dijemput melalui:

  1. Niat yang benar, yaitu memulai segala aktivitas dengan niat mencari rida Allah.
  2. Bertakwa dan beriman, yakni menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sebagai kunci pembuka pintu keberkahan.
  3. Berbakti kepada kedua orang tua, yang sering disebut sebagai “rahasia” kelancaran harta. Memperlakukan orang tua dengan sangat baik dianggap sebagai magnet keberkahan hidup.
  4. Beradab terhadap guru, khususnya untuk keberkahan dalam ilmu. Menghormati guru dan ulama adalah syarat agar ilmu tersebut berkah dan bermanfaat.
  5. Mencari rezeki dengan cara yang halal, karena keberkahan mustahil hadir dalam sesuatu yang diperoleh dengan cara haram atau menzalimi orang lain.
  6. Selalu bersyukur dan berbagi, karena syukur menjadi pengunci nikmat agar tidak hilang, sementara sedekah menjadi pembuka pintu keberkahan. Menggunakan harta untuk kebaikan justru akan membuatnya berkembang (bertambah secara nilai dan makna) bukan berkurang. 

            Tanda-tanda sesuatu dapat dikatakan barokah apabila:

  • Mampu mendatangkan ketenangan hati, apa yang dimiliki menghadirkan rasa damai, bukan kecemasan.
  • Mampu mendatangkan kemanfaatan; sesuatu yang barokah pasti memberikan dampak positif bagi orang lain, seperti ilmu yang diamalkan atau harta yang digunakan untuk membantu sesama.

Dengan demikian, sesuatu bisa dikatakan barokah apabila mampu mendekatkan diri kepada Allah dan keberkahan itu bukan tentang jumlah atau angka melainkan tentang kualitas, manfaat dan bertambahnya kebaikan dalam hidup. Keberkahan dalam rezeki adalah rasa cukup dan mampu mendatangkan ketenangan hati, serta produktivitas waktu yang digunakan untuk beribadah dan menebar kemanfaatan bagi orang lain. [Barsoenie]

Oleh: Halimatus Sa’diyah

0 Comments

Top