Doa Menyambut Bulan Suci Ramadan

 

Sebentar lagi umat Muslim di Indonesia akan menyambut bulan Ramadhan 1447 H. Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada hasil Sidang Isbat (penetapan) 1 Ramadan 1447 H yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani (wafat pada tahun 360 H) menyusun sebuah bab spesifik dalam karyanya, Kitāb al-Duʿāʾ, yang membahas topik ini. Judul bab tersebut adalah al-Qawl ʿinda Dukhūl Ramaḍān, yang berarti ucapan atau doa yang diucapkan ketika memasuki bulan Ramadhan. Berikut adalah kumpulan doa yang dihimpun oleh Imam ath-Thabrani:

Pertama adalah doa yang diriwayatkan oleh Sayyidina ‘Ubadah bin al-Shamith (wafat pada tahun 34 H). Dalam hadits tersebut, Rasulullah mengajarkan doa atau bacaan yang dianjurkan saat bulan Ramadhan tiba. Berikut adalah riwayatnya (dengan sanad hasan):

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه, قال: كان رسول الله صلي الله عليه وسلم يعلمنا هؤلاء الكلمات إذا جاء رمضان أن يقول أحدنا: أللهمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin al-Shamith Ra, ia menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kami suatu doa yang hendaknya dibaca oleh setiap pribadi di antara kami ketika bulan Ramadhan telah tiba:

Allāhumma sallimnī min Ramaḍān, wa sallim Ramaḍān lī, wa tasallamhu minnī mutaqabbalan.

Artinya: Ya Allah, karuniakanlah aku keselamatan hingga memasuki bulan Ramadhan. Curahkanlah keberkahan Ramadhan kepadaku, dan terimalah amalan-amalan ku di bulan Ramadhan [Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitāb al-Duʿāʾ, Kairo: Dar al-Hadits, 2007, 311].

Imam ath-Thabrani juga mencantumkan doa serupa dengan jalur periwayatan dan redaksi yang sedikit berbeda. Diriwayatkan dari Imam Makhul al-Syami (wafat 112 H) bahwa beliau mengamalkan doa ini ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan:

أللهمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

Allāhumma sallimnī li-Ramaḍān, wa sallim Ramaḍān lī, wa tasallamhu minnī mutaqabbalan.

Artinya: Ya Tuhan kami, sampaikanlah kami dengan aman hingga bulan Ramadhan. Perkenankanlah bulan Ramadhan untuk kami dan terimalah seluruh amal ibadah kami di bulan Ramadhan tersebut [Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitāb al-Duʿāʾ, 2007, 312].

Kedua, doa yang bersumber dari Imam Abdul ‘Aziz bin Abi Rawad (wafat 159 H), seorang pakar hadits, ahli ibadah, dan imam Masjid al-Haram. Imam Abdullah bin Mubarak menjulukinya sebagai “aʿbad al-nās” (manusia dengan ibadah paling luar biasa). Beliau adalah murid langsung dari Sayyidina Salim bin Abdullah bin Umar (wafat 106 H), Imam Nafi’ (wafat 117 H), dan tokoh-tokoh lainnya. Berikut adalah transmisi doa yang berasal darinya (sanadnya hasan):

عن عبد العزيز بن أبي رواد قال: كان المسلمون يدعون عند حضرة شهر رمضان: اللّٰهمَّ أَظَلَّ شَهْرُ رَمَضَانَ وَحَضَرَ، فَسَلِّمْهُ لِي وَسَلِّمْنِي فِيهِ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي، اللهمَّ ارْزُقْنِي صِيَامَهُ وَقِيَامَهُ صَبْرًا واحْتِسَابًا، وَارْزُقَنِي فِيْهِ الْجَدَّ وَالْإِجْتِهَادَ والقُوَّةَ والنَّشَاطَ، وَأَعِذْنِي فِيهِ مِنَ السّآمَةِ وَالفَتْرَةِ وَالكَسَلِ والنُّعَاسِ, وَوَفِّقْنِي فيه لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ وَاجْعَلهَا خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ  

Artinya: Dari Abdul Aziz bin Abi Rawad, ia berkata, (Kaum) muslimin berdoa saat bulan Ramadhan hadir:

Allāhumma adhallā shahru Ramaḍān wa ḥaḍara, fa sallimhu lī wa sallimnī fīhi wa tasallamhu minnī. Allāhumma rzuqnī ṣiyāmahu wa qiyāmahu ṣabran waḥtisāban, warzuqnī fīhi al-jidda wa al-ijtihāda wa al-quwwata wa al-nashāṭa, wa aʿidhni fīhi mina al-sāmah wa al-fatrati wa al-kasali wa al-nuʿāsi, wa waffiqnī fīhi li-Laylat al-Qadri wajʿalhā khayran min alfi shahrin. 

(Ya Allah, bulan Ramadhan sudah membayangi dan datang. Maka, sampaikanlah bulan Ramadhan kepadaku, dan sampaikanlah aku dengan selamat ke dalamnya, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan. Ya Allah, karuniailah aku kesabaran dan niat tulus mengharap pahala dan ridha-Mu atas puasa Ramadhanku dan qiyamul lailku. Ya Allah, karuniailah aku dalam bulan Ramadhan kesungguhan hati, ketekunan, kekuatan, dan vitalitas. Ya Allah, lindulingah aku dalam bulan Ramadhan dari kebosanan, lemah lesu, kemalasan, dan lemas/banyaknya kantuk. Ya Allah, sukseskanlah aku dalam mendapatkan lailatul qadar di bulan Ramadhan ini, dan jadikanlah pahala atau kebaikannya lebih baik dari seribu bulan.” [Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitāb al-Duʿāʾ, 2007, 312).

Ketiga, doa yang diriwayatkan Imam Abu ‘Utsman an-Nahdi (w. +91-100 H), seorang tabi’in dan ahli hadits dari Basrah. Ia meriwayatkan hadits dari Sayyidina Umar bin al-Khattab, Sayyidina Ali bin Abu Thalib, Sayyidina Abdullah bin Mas’ud dan banyak sahabat lainnya [Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizzi, Tahdhīb al-Kamāl fī Asmāʾ al-Rijāl, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1992, 17, 425-426]. Berikut riwayatnya (sanadnya hasan):

عن أبي عثمان النهدي قال: قالت عائشة رضي الله عنها: لما حضر رمضان قلت: يا رسول الله, قد حضر رمضان فما أقول؟ قال: قولي: اللهمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي 

Artinya: Dari Abu ‘Utsman an-Nahdi, ia berkata, (Sayyidah) ‘Aisyah Ra. berkata, ketika Ramadhan datang, aku berkata, Ya Rasulullah, sungguh Ramadhan telah tiba, maka apa (yang harus) kuucapkan? Rasulullah berkata, Ucapkanlah “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Memaafkan, mencintai “maaf”, maka maafkanlah diriku). [Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitāb al-Duʿāʾ, 2007, 312].

Itulah doa-doa menyambut Ramadhan yang telah dikumpulkan oleh Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani (w. 360 H), seorang ahli hadits besar dalam sejarah Islam, yang sosoknya oleh Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) digambarkan dengan kalimat:

 الطبراني هو الإمام الحافظ الثقة. الرحال الجوال، محدث الإسلام  

Artinya: Imam ath-Thabrani adalah imam al-hafidz (hafal banyak hadits sekaligus perawinya) yang otoritasnya tidak diragukan (thiqah), seorang pengelana (pengetahuan), (dan) ahli haditsnya Islam.” [Imam Ibnu Katsir, Jāmiʿ al-Masānīd wa al-Sunan, Beirut: Dar al-Fikr, 1994, 3, 117]. 

Sementara itu, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, dalam kitab Ithāf Ahl al-Islām bi Khuṣūṣiyyat al-Ṣiyām, menyampaikan redaksi lain doa awal bulan Ramadhan sebagai berikut.

اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ العَظِيْمِ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الشَّهْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ الْقَدَرِ، وَمِنْ شَرِّ الْمحَشْرِ

Allāhu akbaru, lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘azhīmi. Allāhumma innī as’aluka khaira hādzas syahri, wa a‘ūdzu bika min syarril qadari, wa min syarril mahsyari.

Artinya: “Allah maha besar. Tiada daya dan upaya kecuali berkat pertolongan Allah yang maha agung. Aku memohon kepada-Mu kebaikan bulan ini (Ramadhan). Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan takdir dan keburukan mahsyar.”

Demikianlah doa menyambut bulan suci Ramadhan yang bersumber dari Nabi Muhamad Saw. Doa tersebut merupakan bagian terpenting dari perjalanan umat Muslim untuk memasuki bulan suci tersebut. [Aham]


0 Comments

Top