Dalam puasa wajib—seperti Ramaḍan,
qaḍāʾ, dan nazar—niat harus ditegaskan pada malam hari (tabyīt
al-niyyah), yakni sejak terbenamnya matahari hingga sebelum terbit fajar ṣādiq.
Ketentuan ini berbeda dengan puasa sunnah yang lebih longgar; niat boleh
dilakukan pada malam hari atau bahkan pada siang hari sebelum zawāl (tergelincirnya
matahari), selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ النِّيَّةَ قَبْلَ الْفَجْرِ
فَلَا صِيَامَ لَهُ
Artinya: “Barang siapa yang tidak
berniat puasa di malam hari sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa
baginya.”[HR. Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad].
Kewajiban melakukan tabyīt
al-niyyah berimplikasi langsung pada keabsahan puasa; jika niat tidak
dilakukan pada malam hari, maka puasa wajib menjadi tidak sah. Karena itu, hal
ini harus menjadi perhatian serius, agar tidak lalai atau tertidur hingga
melewati waktu niat.
Sebagai langkah antisipatif
apabila seseorang lupa atau tertidur hingga siang hari tanpa sempat berniat,
maka pada malam pertama 1 Ramaḍān dianjurkan melakukan dua niat: pertama, niat
sebagaimana lazimnya setiap malam; kedua, berniat dengan mengikuti (taqlīd)
pendapat mazhab Mālikī yang membolehkan satu niat pada malam pertama untuk
keseluruhan puasa sebulan penuh.
Dalam mazhab Mālikī, puasa Ramaḍān
dipandang sebagai satu rangkaian ibadah yang utuh, sehingga cukup dengan satu
niat pada malam pertama tanpa perlu memperbaruinya setiap hari. Pendapat ini
juga disinggung oleh Syaikh Imām al-Qulyūbī dalam Ḥāsyiyah al-Qulyūbī,
jilid 2, halaman 66.
وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ
شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ
الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا
عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ
Artinya: “Disunahkan pada malam
pertama bulan Ramadhan untuk niat berpuasa sebulan penuh agar pendapat Imam
Malik berguna semisal saat lupa berniat di suatu hari. Karena beliau menganggap
niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya di semua
malam Ramadhan.”
Adapun bacaan niat puasa Ramadhan, sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ
رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala”
Sementara niat puasa untuk satu bulan penuh, sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ
السَّنَةِ تَقْلِيْدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku niat berpuasa sepanjang bulan Ramadhan tahun
ini dengan mengikuti Imam Malik, karena Allah Ta’ala”
Niat sebulan penuh ini tidak
dimaksudkan untuk menggugurkan kewajiban niat setiap malam, melainkan
semata-mata sebagai langkah mitigasi ketika benar-benar terjadi kelalaian atau
tertidur hingga terlewat waktu niat. Dengan demikian, meskipun telah melakukan
niat untuk satu bulan penuh pada malam pertama, tetap dianjurkan untuk
memperbarui niat pada malam-malam berikutnya sebagaimana praktik yang lazim. Wallahu
a`lam [Aham]
.png)

0 Comments