Benarkah Masa Al-Khulafā’ al-Rāshidūn Hanya Masa Umar?

 


Belakangan ini makin banyak kalangan sekular yang menyebarkan anggapan keliru, seolah-olah seluruh masa al-khulafaur-rasyidin hanyalah masa Umar. Masa Abu Bakar dilupakan begitu saja, padahal kepemimpinannya singkat tetapi penuh capaian besar.

Abu Bakar memerangi kaum murtad dan orang-orang yang menolak membayar zakat, hingga mereka kembali kepada Islam dan menunaikan hak fakir miskin. Negara yang ia pimpin bahkan menjadi negara pertama dalam sejarah yang mengerahkan pasukan demi membela hak kaum miskin. Ia berkata,

والله لو منعوني عقالا كانوا يؤدونه إلى رسول الله لقاتلتهم عليه (متفق عليه: رواه البخاري فى الإعتصام بالكتاب و السنة 7284، ومسلم فى الأيمان 20 عن أبي هريرة)

“Demi Allah, jika mereka tidak mau memberikan kepadaku seikat tali unta saja yang dulu pernah mereka berikan kepada Rasulullah, niscaya aku akan perangi mereka!”

Abu Bakar juga yang pertama memulai penaklukan Islam, yaitu dengan menghadapi Persia dan Romawi. Ia wafat ketika Perang Yarmuk melawan imperium Romawi sedang berkecamuk.

Ia pula yang pertama kali merumuskan etika perang berdasarkan al-Qur’an dan Hadis. Ia berwasiat agar para pendeta tidak dibunuh dan dibiarkan beribadah sesuai keyakinannya. Ia juga menolak menerima kepala musuh yang dipenggal, dan berkata,

لا ينقل إلي رأس بعد اليوم (رواه النسائ فى السير من الكبرى)

“Jangan membawa kepala kepadaku setelah hari ini”

Selain itu, Abu Bakar meletakkan prinsip pembatasan kekuasaan seorang penguasa, sekaligus kewajiban rakyat untuk mengawasi pemimpinnya. Saat dilantik, ia berkata,

أيها الناس إنى وليت عليكم، ولست بخيركم فإن رأيتمونى على حق فأعينونى، وإن رأيتمونى على باطل فقومونى، أطيعونى ما أطعت الله فيكم، فإن عصيته فلا طاعة لى عليكم...

“Wahai manusia, aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian. Tetapi, ini tidak berarti aku terbaik di antara kalian. Jika kalian melihatku ada dalam kebenaran, ikutilah aku. Dan jika kalian lihat aku dalam kebatilan, luruskanlah aku. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah. Akan tetapi, jika aku melakukan maksiat, kalian tidak perlu taat kepadaku.”

Dr. Muhammad Husain Haikal menulis, “Bukankah ini termasuk mukjizat sejarah? Hanya dalam waktu dua tahun tiga bulan, pemberontakan berbagai golongan dapat diredam. Mereka menjadi umat yang satu, kuat, disegani, dan mulia, sampai mampu melawan dua imperium terbesar dunia yang saat itu berkuasa dan memegang hegemoni peradaban. Dari situlah mereka bangkit menjadi peradaban maju selama berabad-abad.

Peristiwa seperti itu belum pernah terjadi dalam sejarah. Tidak mengherankan jika kekuatan tersebut ada pada diri Abu Bakar dan tidak pada tokoh besar lainnya. Semua itu hanya butuh dua tahun sejak ia dibaiat menjadi khalifah.” [Ash-Shiddiq Abu Bakr, 345]

Orang-orang sekular juga melupakan tahun-tahun pertama yang telah diraih oleh Utsman bin Affan, baik dalam bentuk kesejahteraan dan kemakmuran internal ataupun kemenangan beberapa pembebasan di berbagai tempat.

Di masa Utsman lah untuk pertama kalinya pasukan umat Islam mengarungi lautan untuk berperang di jalan Allah, sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadis-hadis shahih. Serta, banyak hal lainnya yang ditinggalkan oleh Utsman, baik fikih politik ataupun fatwa-fatwa brilian.

Misalnya, ketika Utsman membolehkan untuk memungut unta yang tersesat dan menyimpannya di Baitul Mal hingga datang pemiliknya. Padahal beberapa hadis melarang hal tersebut. Tetapi, hadis tersebut dalam pandangan Utsman merupakan tindakan Nabi sebagai kepala negara. Untuk pemimpin selanjutnya, boleh memiliki pandangan yang berbeda dari beliau Saw.

Orang-orang sekular pun melupakan beberapa kaidah yang telah dibuat oleh Ali bin Abi Thalib, baik dalam bentuk politik hukum, politik keuangan, serta cara berinteraksi dengan para pemberontak yang tidak mau taat kepada pemimpin. Meskipun memang terjadi perselisihan antara dia dengan beberapa kelompok.

Ali pun meninggalkan kekayaan fikih yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pemberian (jaminan) ganti rugi bagi para pekerja bila merusak barang-barang pekerjaannya karena ketidakmampuan mereka.

Contoh lainnya, adalah soal cara berinteraksi dengan Khawarij sebagai partai oposisi. Selama oposisi yang ditempuh Khawarij baik, Ali mengakui cara tersebut. Kepada Khawarij, Ali pernah berkata,

لكم علينا ثلاث: لا نمنعكم مساجد الله أن يذكر فيها اسمه، ولا نمنعكم فيئا ما كانت أيديكم مع أيدينا، ولا نقاتلكم حتى تقاتلوا (رواه ابن أبى شيبة فى الجمل)

“Kalian mempunyai tiga hak yang harus kami tunaikan: Masjid yang di dalamnya disebut nama Allah selalu terbuka untuk kalian, kami tidak akan melarang kalian untuk mendapatkan harta fai’ (rampasan perang) selama kalian bekerja sama dengan kami, dan kami tidak akan memerangi kalian hingga kalian memerangi kami”

Ucapan di atas menegaskan legalitas partai oposisi senyampang partai tersebut tidak menggunakan cara kekerasan. Dan masih banyak fatwa lainnya dalam fikih muamalah.

Demikian uraian untuk menjawab distorsi sejarah yang telah mereka sebarkan. Masa Umar memang gemilang, tetapi tidak berdiri sendiri. Abu Bakar menyelamatkan negara dari keruntuhan dan meletakkan etika perang serta kontrol kekuasaan. Utsman memperluas wilayah dan memberi contoh ijtihad fikih. Ali meninggalkan kaidah hukum, keuangan, dan sikap terhadap penentang. Mereduksi seluruh periode ini menjadi satu nama berarti mengabaikan sebagian besar warisan peradaban Islam. [Aham]

Disarikan dari Yusuf al-Qaraḍāwī, Tārīkhunā al-Muftarā ʿAlayh.


0 Comments

Top