Nalar Qur’ani: Ketika Akal Menjadi Jalan Menuju Kebenaran Wahyu

Islam tidak mengajarkan manusia untuk menerima wahyu secara pasif tanpa berpikir. Sebaliknya, Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia untuk menggunakan akalnya, merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah, dan mempertimbangkan berbagai argumentasi dalam membedakan antara kebenaran dan kesesatan. Penggunaan nalar, dengan demikian, bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan wahyu, melainkan salah satu jalan yang dapat mengantarkan manusia kepada keyakinan terhadap kebenaran wahyu itu sendiri.

Namun, akal tetap memiliki batas. Setelah kebenaran wahyu diyakini, wahyu menjadi sumber petunjuk utama dalam perkara-perkara yang berada di luar jangkauan kemampuan rasional manusia. Di sinilah posisi akal dan wahyu dalam Islam terlihat jelas: keduanya tidak saling meniadakan, tetapi saling melengkapi dalam membimbing manusia menuju kebenaran.

Salah satu contoh paling terkenal tentang bagaimana nalar dipakai untuk menegakkan kebenaran dapat dilihat dalam dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan Raja Namrud, yang diabadikan dalam Surah al-Baqarah ayat 258:

 إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ 

“Ketika Ibrahim berkata, 'Tuhanku adalah Yang menghidupkan dan mematikan.' Dia (Namrud) berkata, 'Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.'”

Ibrahim tidak berhenti pada pernyataan pertama. Ketika Namrud membalas dengan klaim kosong bahwa ia pun bisa menghidupkan dan mematikan, Ibrahim segera menyodorkan argumentasi yang jauh lebih kuat dan tidak bisa dibantah:

قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ

“Ibrahim berkata, ‘Kalau begitu, sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur. Maka, terbitkanlah ia dari barat’. Akhirnya, bingunglah orang yang kufur itu.”

Di titik itu, Namrud kehabisan kata. Ia bisa saja berbohong soal menghidupkan dan mematikan, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap matahari. Kisah ini menunjukkan bahwa Ibrahim tidak sekadar menyampaikan klaim, melainkan memberikan alasan yang bisa dicerna akal siapa pun, dan itulah yang membuat lawan bicaranya tak berkutik. Imam al-Ghazālī, dalam kitab Qisṭās al-Mustaqīm (hlm. 60), menyusun ulang argumentasi ini dalam bentuk yang lebih formal:

كُلُّ مَنْ يَقْدِرُ عَلَى إِطْلَاعِ الشَّمْسِ فَهُوَ الإِلٰهُ وَإِلٰهِي هُوَ القَادِرُ عَلَى الإِطْلَاعِ أَنَّ إِلٰهِي هُوَ الإِلٰهُ دُونَكَ يَا نَمْرُودُ

“Setiap Zat yang mampu menerbitkan matahari, maka Dialah Tuhan. Dan Tuhanku adalah Yang Mahakuasa untuk menerbitkannya. Sesungguhnya Tuhanku adalah Tuhan, bukan engkau, wahai Namrud.”

Nalar semacam ini juga dipakai Al-Qur'an untuk menjelaskan sesuatu yang jauh lebih mendasar: keesaan Allah. Dalam Surah al-Anbiyā' ayat 22, Allah Swt. berfirman:

لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَا

“Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa.”

Ayat ini mengajak siapa saja untuk mengamati keteraturan alam semesta lalu bertanya, mungkinkah keteraturan itu bertahan jika ada dua kehendak mutlak yang saling bersaing? Jika satu Tuhan menghendaki sesuatu dan Tuhan lain menghendaki hal yang berlawanan, mustahil keduanya sama-sama berkuasa penuh tanpa memicu kekacauan. Karena kenyataannya alam semesta tetap teratur, maka keteraturan itu sendiri menjadi tanda yang mengarahkan pada satu kesimpulan: Penciptanya esa. Dengan begitu, keimanan tidak dibangun di atas klaim tanpa alasan, melainkan diperkuat lewat perenungan atas tanda-tanda yang terhampar di alam. Imam al-Ghazālī merangkum logika ini dalam kitab yang sama (hlm. 85):

لَوْ كَانَ الْعَالَمُ إِلٰهَيْنِ لَفَسَدَ وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ لَمْ يَفْسُدْ فَلَا إِلٰهَيْنِ فِي الْعَالَمِ

“Seandainya alam ini memiliki dua Tuhan, niscaya alam akan rusak. Dan telah diketahui bahwa alam tidak rusak. Maka tidak ada dua Tuhan di alam.”

Nalar Al-Qur'an tidak berhenti pada persoalan ketuhanan semata, tetapi juga dipakai untuk menguji klaim-klaim keagamaan yang diucapkan tanpa bukti. Salah satunya muncul dalam Surah al-Mā'idah ayat 18, ketika orang-orang Yahudi dan Nasrani mengklaim diri sebagai anak-anak dan kekasih Allah:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُم بِذُنُوبِكُم ۖ بَلْ أَنتُم بَشَرٌ مِّمَّنْ خَلَقَ

“Orang Yahudi dan orang Nasrani berkata: Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya. Katakanlah: (Jika benar demikian,) mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Sebaliknya, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan.”

Alih-alih membantah klaim itu secara langsung, Al-Qur'an membalikkannya dengan pertanyaan sederhana tapi telak: jika benar mereka anak-anak Allah, mengapa mereka masih disiksa karena dosa? Pertanyaan ini menyingkap sebuah prinsip yang berlaku universal, bahwa sebuah pernyataan tidak lantas menjadi benar hanya karena diucapkan; ia harus disertai bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Struktur logisnya, sebagaimana diuraikan al-Ghazālī dalam kitab yang sama (hlm. 73), sederhana saja:

أَنَّ الْبَنِينَ لَا يُعَذَّبُونَ وَأَنْتُمْ مُعَذَّبُونَ فَإِذًا لَسْتُمْ أَبْنَاءَ

“Sesungguhnya anak-anak tidak disiksa. Dan kalian disiksa. Maka dengan demikian kalian bukanlah anak-anak.”

Pola menguji klaim lewat konsekuensi logisnya sendiri terulang lagi dalam Surah al-Jumu'ah ayat 6–7, kali ini menyoal klaim kaum Yahudi bahwa merekalah kekasih-kekasih Allah:

 قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِن زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِن دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ وَلَا يَتَمَنَّونَه اَبَدًا

"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Wahai orang-orang Yahudi, jika kamu mengira bahwa kamulah kekasih Allah dan bukan orang lain, harapkanlah kematianmu jika kamu orang-orang benar.' Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya."

Tantangannya sederhana: kalau memang yakin sebagai kekasih Allah, mengapa takut pada kematian yang justru akan mempertemukan mereka dengan-Nya? Kenyataannya, mereka tidak pernah berani mengharapkan hal itu, karena mereka sendiri tahu betul dosa dan perbuatan yang telah mereka lakukan. Lewat cara inilah Al-Qur'an mengajarkan bahwa sebuah klaim bisa diuji dari konsekuensi logis yang lahir darinya sendiri, bukan dari sekadar keyakinan orang yang mengucapkannya. Al-Ghazālī, pada halaman 74 dari kitab yang sama, merumuskannya sebagai berikut:

كُلُّ وَلِيٍّ يَتَمَنَّى لِقَاءَ وَلِيِّهِ وَالْيَهُودِيُّ لَيْسَ يَتَمَنَّى لِقَاءَ اللَّهِ أَنَّهُ لَيْسَ وَلِيَّ اللَّهِ تَعَالَى

“Setiap kekasih menginginkan perjumpaan dengan kekasihnya. Sedangkan orang Yahudi tidak menginginkan perjumpaan dengan Allah. Karena ia bukanlah kekasih Allah Ta'ala.”

Dari Ibrahim yang menaklukkan Namrud dengan logika matahari, hingga bantahan tegas terhadap klaim-klaim tanpa dasar, Al-Qur'an berulang kali menunjukkan bahwa kebenaran wahyu dan kekuatan akal sejatinya berjalan beriringan. Nalar bukan ancaman bagi iman, melainkan salah satu jalan yang mengantarkan manusia untuk semakin yakin pada kebenaran yang dibawanya.* [Aham]


*Penulis: Muhammad Fikri (Aye)




0 Comments

Top