Siapa Penggagas Maulid Nabi? Menelusuri Jejak Raja Muẓaffaruddîn al-Kukburî
Setiap kali
bulan Rabî'ul Awal tiba, gema shalawat dan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
menggema di berbagai penjuru dunia, dari masjid-masjid kecil di pelosok desa
hingga perayaan akbar di kota-kota besar. Namun pernahkah kita bertanya, siapa sebenarnya yang pertama kali menggagas
tradisi indah ini? Jawabannya membawa kita menengok ke belakang, jauh ke masa
pemerintahan seorang raja yang shaleh di tanah Irbil, wilayah yang kini menjadi
bagian dari Irak.
Beliau adalah Raja Muẓaffaruddîn Abû Sa'îd
al-Kukburî bin Zainuddîn 'Alî bin Buktikîn, seorang penguasa yang dikenal luas
karena kesalehan, kerendahan hati, dan kedermawanannya. Imam Jalâluddîn
al-Suyûthî, ulama besar yang karyanya menjadi rujukan banyak generasi, mencatat
dengan jelas dalam kitab al-Hâwî li al-Fatâwî:
وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ فِعْلَ ذَلِكَ صَاحِبُ
إِرْبِلِ الْمَلِكُ الْمُظَفَّرُ أَبُو سَعِيدٍ الْكُكْبُرِي بْنُ زَيْنِ الدِّينِ
عَلِيِّ بْنِ بُكْتِكِينَ أَحَدُ الْمُلُوكِ الْأَمْجَادِ وَالْكُبَرَاءِ
الْأَجْوَادِ ... كَانَ يَعْمَلُ الْمَوْلِدَ الشَّرِيفَ فِي رَبِيعِ الْأَوَّلِ
وَيَحْتَفِلُ إِحْتِفَالًا هَائِلًا
Yang artinya,
orang yang pertama kali mengadakan perayaan semacam ini adalah penguasa Irbil,
Raja Muẓaffar Abû Sa'îd al-Kukburî bin Zainuddîn 'Alî bin Buktikîn, salah satu
raja yang mulia, luhur, dan pemurah. Beliau rutin menggelar peringatan Maulid
yang mulia setiap bulan Rabî'ul Awal, dan perayaan itu digelar dengan sangat
meriah, bukan sekadar seremoni kecil, melainkan pesta besar yang melibatkan
banyak kalangan.
Bayangkan saja,
di tengah kesibukan mengurus kerajaan, sang raja justru menyisihkan perhatian
besar untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW setiap tahun. Ini bukan tindakan
asal-asalan atau sekadar mengikuti tren zamannya, melainkan lahir dari
kecintaan yang tulus kepada baginda Nabi. Kesan ini semakin diperkuat oleh
catatan Imam Syamsuddîn Muhammad bin Ahmad bin 'Utsmân al-Dzahabî dalam kitab Tahdzîb
Siyar A'lâm al-Nubalâ', yang menggambarkan sosok sang raja dengan begitu
hidup:
السُّلْطَانُ الدَّيِّنُ الْمَلِكُ الْمُعَظَّمُ
مُظَفَّرُ الدِّينِ أَبُو سَعِيدٍ كُكْبُرِي بْنُ عَلِيِّ بْنِ بُكْتِكِينَ بْنِ
مُحَمَّدٍ التُّرْكُمَانِيُّ صَاحِبُ إِرْبِل .. وَ كَانَ مُتَوَاضِعًا خَيِّرًا
سُنِّيًّا يُحِبُّ الْفُقَهَاءَ وَالْمُحَدِّثِينَ مَاتَ سَنَةَ ثَلَاثِينَ وَ
سِتِّ مِائَةٍ وَ عَاشَ اثْنَتَيْنِ وَ ثَمَانِينَ سَنَةً
Al-Dzahabî
menyebutnya sebagai sultan yang agamis, raja yang agung, Muẓaffaruddîn Abû
Sa'îd Kukburî bin 'Alî bin Buktikîn bin Muhammad al-Turkamânî, penguasa Irbil,
yang dikenal rendah hati, berbudi baik, bermazhab Sunnî atau termasuk golongan
Ahlussunnah wal Jama'ah, serta sangat mencintai para fuqahâ' dan ahli hadits. Beliau wafat pada tahun 630 H dalam usia
82 tahun, meninggalkan warisan tradisi yang terus hidup hingga kini.
Dari sinilah
kita bisa memahami mengapa perayaan Maulid Nabi tidak lahir dari ruang hampa,
melainkan digagas oleh sosok yang memang dikenal dekat dengan ulama, mencintai
ilmu, dan tulus dalam menjalankan agamanya. Kecintaan seorang raja kepada
Rasulullah SAW inilah yang kemudian menjelma menjadi tradisi turun-temurun,
diteruskan oleh generasi demi generasi, hingga akhirnya menjadi bagian tak
terpisahkan dari khazanah budaya dan spiritual umat Islam di seluruh dunia.
Sebuah bukti nyata bahwa cinta kepada Nabi Muhammad SAW mampu melampaui batas
ruang dan waktu, terus hidup dan berkembang meski telah berabad-abad lamanya. [Aham]


0 Comments