Katanya Makkah Tak Pernah Merayakan Maulid? Sejarah Justru Membantahnya!

 

Ada satu kalimat yang sering dilempar untuk menggoyahkan keyakinan para pengamal Maulid: "tidak ada Maulid Nabi di kota Makkah, sebab Allah menjaga kota suci ini dari segala bentuk kesesatan." Kalimat ini pendek dan terdengar meyakinkan, tapi begitu ditelusuri ke sumber-sumber sejarah, klaim itu runtuh dengan sendirinya. Faktanya, justru di Makkah-lah perayaan Maulid Nabi berlangsung sejak ratusan tahun silam, jauh sebelum kota itu dikuasai kelompok yang belakangan dikenal sebagai kaum Wahabi.

Bukti paling dekat datang dari pendiri Nahdlatul Ulama sendiri. KH Hasyim Asy'ari, dalam kitabnya yang ditulis pada 1946 M, menjelaskan hakikat Maulid yang dianjurkan para ulama:

يُؤْخَذُ مِنْ كَلَامِ الْعُلَمَاءِ الْآتِيْ ذِكْرُهُ أَنَّ الْمَوْلِدَ الَّذِيْ يَسْتَحِبُّهُ الْأَئِمَّةُ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةِ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا وَقَعَ فِيْ حَمْلِهِ وَمَوْلِدِهِ مِنَ الْإِرْهَاصَاتِ وَمَا بَعْدَهُ مِنْ سِيَرِهِ الْمُبَارَكَاتِ ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُمْ طَعَامٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ وَإِنْ زَادُوْا عَلَى ذَلِكَ ضَرْبَ الدُّفُوْفِ مَعَ مُرَاعَاةِ الْأَدَبِ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ

Beliau menjelaskan bahwa Maulid yang dianjurkan para imam adalah berkumpulnya masyarakat, membaca ayat Al-Qur'an, mengenang riwayat kehidupan Nabi sejak dalam kandungan hingga kelahirannya, lalu menyantap hidangan bersama, dan bila ditambah tetabuhan rebana dengan tetap menjaga adab, hal itu tidak mengapa. [At-Tanbihat Al-Wajibat, 5]

Bukti ini bahkan tidak hanya berhenti di kitab-kitab fikih dan catatan perjalanan, tapi juga terekam dalam media massa resmi Kerajaan Hijaz kala itu. Surat kabar Al-Qiblah, terbitan Rabiul Awal 1335 H, memuat laporan berjudul "Ihtifalu Ummil Quraa bi Dzikri Maulidi Khairil Waraa" (Perayaan Ummul Qura dalam Mengenang Maulid Sebaik-baik Makhluk).

Berita ini melaporkan perayaan Maulid Nabi yang berlangsung resmi di Makkah sepulang salat Magrib, dihadiri langsung oleh Syarif Husain, Amir Makkah kala itu, bersama jajaran naqib asyraf, para wakil kerajaan, dan tokoh-tokoh terkemuka kota suci. Artinya, perayaan Maulid bukan sekadar tradisi rakyat yang berjalan diam-diam, melainkan acara yang mendapat sokongan resmi dari pemerintahan Hijaz sebelum kekuasaan Makkah berpindah tangan ke rezim Wahabi-Saudi pada dekade berikutnya.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, para guru ulama Nusantara pun mencatatnya. Syekh Nawawi al-Bantani yang wafat 1315 H di Makkah menulis bahwa mengadakan Maulid Nabi termasuk mendekatkan diri kepada Allah, bisa lewat sedekah, membaca Al-Qur'an, dan mengisahkan riwayat Nabi [Madarij As-Shu'ud, 15]. Sezaman dengannya, Syekh Dimyathi Syatha yang wafat 1310 H mengutip gurunya, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, tentang kebiasaan orang berdiri penuh hormat ketika mendengar kisah kelahiran Nabi disebutkan, sebuah tradisi yang menurutnya dilakukan oleh banyak ulama panutan umat [Ianah Thalibin, 3/414]. Sementara Syekh Abdul Hamid Asy-Syarwani, wafat 1301 H, menyebut bagaimana Imam As-Suyuthi menulis panjang lebar hujjah bahwa Maulid adalah amal baik berpahala, lengkap dengan bantahan bagi yang menolaknya [Hawasyi Syarwani, 31/378].

Semakin ke belakang, jejaknya makin jelas terlihat langsung di jantung kota suci. Ibnu Dzahirah Al-Makhzumi, sejarawan Makkah yang wafat 985 H, mencatat tradisi tahunan pada malam 12 Rabiul Awal, di mana Hakim Makkah bersiap berziarah ke tempat kelahiran Nabi seusai salat Magrib, didampingi para hakim, ahli fikih, dan tokoh-tokoh mulia kota itu [Al-Jami' Al-Lathif, 201]. Lebih jauh lagi, sang musafir termasyhur dari Maroko, Ibnu Bathuthah yang wafat 779 H, mencatat bahwa pintu Ka'bah yang biasanya hanya dibuka setiap Jumat, turut dibuka pula pada hari kelahiran Nabi [Rihlah Ibn Bathuthah, 1/60]. Bahkan Ibnu Jubair, sejarawan asal Andalusia yang wafat 579 H, menuliskan bagaimana tempat kelahiran Nabi dibuka setiap bulan Rabiul Awal, terutama pada hari Senin, dan diserbu orang-orang yang mencari berkah, sebuah pemandangan yang menurutnya senantiasa disaksikan di Makkah [Rihlah Ibn Jubair, 1/34].

Dari rentetan catatan ini, sejak lebih dari lima ratus tahun silam pun perayaan Maulid Nabi sudah menjadi bagian hidup kota Makkah, baik di seputar Ka'bah maupun di rumah kelahiran Rasulullah sendiri.

Kisah yang barangkali paling hidup datang langsung dari catatan perjalanan Ibnu Bathuthah dalam karya besarnya, Tuhfat an-Nuzhzhar fi Ghara'ib al-Amshar wa 'Aja'ib al-Asfar, yang lebih dikenal sebagai Rihlah Ibnu Bathuthah. Kitab ini ditulis sejak keberangkatan hajinya pada Kamis, 2 Rajab 725 H, bertepatan pertengahan Juni 1325 M. Dalam catatannya, ia menuturkan sosok Qadhi Makkah kala itu, Najmuddin Muhammad putra Al-Imam Muhyiddin Ath-Thabari, seorang ulama yang shaleh, dermawan, dan gemar menjamu masyarakat, terutama pada momen Maulid Nabi :

قَاضِي مَكَّةَ الْعَالِمُ الصَّالِحُ الْعَابِدُ نَجْمُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ الْإِمَامِ الْعَالِمِ مُحْيِي الدِّينِ الطَّبَرِيُّ، وَهُوَ فَاضِلٌ كَثِيرُ الصَّدَقاتِ وَالْمُوَاسَاةِ لِلْمُجَاوِرِينَ، حَسَنُ الْأَخْلَاقِ كَثِيرُ الطَّوَافِ وَالْمُشَاهَدَةِ لِلْكَعْبَةِ الشَّرِيفَةِ، وَيُطْعِمُ الطَّعَامَ الكَثِيرَ فِي الْمَوَاسِمِ الْمُعَظَّمَةِ وَخُصُوصًا فِي مَوْلِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا، فَإِنَّهُ يُطْعِمُ فِيهِ شُرَفَاءَ مَكَّةَ وَكُبَرَاءَهَا وَفُقَرَاءَهَا وَخُدَّامَ الْحَرَمِ الشَّرِيفِ وَجَمِيعَ الْمُجَاوِرِينَ

Sang Qadhi digambarkan senantiasa membagikan makanan pada hari Maulid kepada para syarif keturunan Nabi, para pembesar, fakir miskin, pelayan Masjidil Haram, hingga seluruh penduduk sekitar, sebuah kemurahan hati yang bahkan mendapat penghormatan langsung dari Sultan Mesir Al-Malik An-Nashir kala itu. [Rihlah Ibnu Bathuthah, I, 387-388, cetakan Akademi Kerajaan Maroko, Rabath, 1996]

Saksi lain yang tak kalah otoritatif adalah Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Jazari, wafat 833 H, sang imam qurra' yang hampir seluruh sanad bacaan Al-Qur'an dunia bermuara kepadanya, dan seorang Al-Hafizh yang menghafal ratusan ribu hadits lengkap dengan sanadnya. Dalam kitab Maulid karyanya sendiri, ia bercerita langsung bagaimana penduduk Makkah merayakan hari kelahiran Nabi secara besar-besaran:

وَكَانَ مَوْلِدُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالشِّعْبِ، وَهُوَ مَكَانٌ مَعْرُوفٌ مُتَوَاتِرٌ عِنْدَ أَهْلِ مَكَّةَ. يَخْرُجُ أَهْلُ مَكَّةَ كُلَّ عَامٍ يَوْمَ الْمَوْلِدِ وَيَحْتَفِلُونَ بِذَلِكَ أَعْظَمَ مِنْ احْتِفَالِهِمْ بِيَوْمِ الْعِيدِ، وَذَلِكَ إِلَى يَوْمِنَا هَذَا. وَقَدْ زُرْتُهُ وَتَبَرَّكْتُ بِهِ عَامَ حِجَّتِي سَنَةَ اثْنَيْنِ وَتِسْعِينَ وَسَبْعِ مِائَةٍ. وَرَأَيْتُ مِنْ بَرَكَتِهِ عَظِيمًا، ثُمَّ كَرَّرْتُ زِيَارَتَهُ فِي مُجَاوَرَتِي سَنَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَثَمَانِ مِائَةٍ، وَكَانَ قَدْ تَهَدَّمَ فَرَمَمْتُهُ. وَقُرِئَ عَلَيَّ كِتَابِي: التَّعْرِيفُ بِالْمَوْلِدِ الشَّرِيفِ عَلَيَّ وَسَمِعَهُ خَلْقٌ لَا يُحْصَوْنَ، وَكَانَ يَوْمًا مَشْهُودًا

Ibnul Jazari menuturkan bahwa Nabi lahir di Syi'ib, tempat yang dikenal luas secara mutawatir oleh penduduk Makkah, dan setiap tahun mereka keluar merayakan hari Maulid dengan perayaan yang bahkan lebih meriah dari hari raya Idul Fitri, tradisi yang berlangsung hingga zamannya sendiri. Ia bahkan menceritakan pengalaman pribadinya berziarah dan bertabarruk ke tempat itu pada tahun 792 H, lalu kembali lagi pada 823 H untuk memugarnya karena telah rusak, sebuah momen yang bahkan disaksikan oleh orang banyak yang tak terhitung jumlahnya. [Arf At-Ta'rif bil Maulid Asy-Syarif, 23, cetakan Darul Hadits Al-Kittaniyyah, Beirut, 2010]

Rentetan kesaksian dari abad ke abad ini, mulai dari pendiri NU, guru-guru ulama Nusantara di Makkah, hingga para sejarawan dan musafir yang menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri, menunjukkan satu hal yang sama: tradisi Maulid Nabi bukan barang baru, apalagi bid'ah sesat yang muncul entah dari mana. Ia hidup dan berdenyut justru di jantung kota kelahiran Nabi selama berabad-abad, sebelum akhirnya menghilang dari Makkah bukan karena dilarang oleh syariat, melainkan karena perubahan kekuasaan dan paham yang menguasai kota itu di era modern. Sejarah, sekali lagi, berbicara lebih jujur daripada slogan. [Aham]


0 Comments

Top