Islam Mengajarkan Optimisme: Tinggalkan Thiyarah, Hidupkan Fa’l dan Husnuzan kepada Allah
Islam sangat menekankan sikap optimis dan menolak pesimisme. Jika thiyarah
(pertanda buruk) dilarang, Islam justru menganjurkan sikap sebaliknya yang
disebut fa’l—yaitu semangat positif yang muncul karena mendengar atau
melihat sesuatu yang membahagiakan. Fa'l adalah wujud husnudzan
(prasangka baik) kepada Allah ﷻ. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan:
أَنَا
عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku." [HR Bukhari-Muslim]
Nabi ﷺ
bersabda:
لَا
طِيَرَةَ، وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ
"Tidak ada pertanda buruk, dan yang terbaik adalah fa'l."
Ketika sahabat
bertanya apa itu fa’l, beliau menjawab:
الْكَلِمَةُ
الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ
"Kata-kata baik yang didengar oleh salah seorang dari kalian." [HR Bukhari-Muslim]
Para ulama mencontohkan: seorang yang sakit mendengar orang lain berkata
"Ya Salim" (wahai yang sehat), lalu ia merasa optimis akan
segera sembuh. Atau seseorang yang hendak bepergian mendengar kata "Ya
Najih" (wahai yang sukses), sehingga ia yakin perjalanannya akan
berhasil.
Fa’l bahkan menjadi
kebiasaan Nabi ﷺ sendiri. Sahabat Anas bin Malik ra menceritakan bahwa setiap
kali Nabi ﷺ
keluar rumah untuk suatu keperluan, beliau senang bila mendengar seruan "Ya
Rasyid" (wahai yang mendapat petunjuk) atau "Ya Najih"
(wahai yang sukses). [HR Turmudzi]
Inilah pelajaran penting dari seluruh pembahasan tentang Rabu Pungkasan:
bukan ketakutan dan prasangka buruk yang perlu dipelihara, melainkan husnudzan
kepada Allah ﷻ
serta optimisme dalam menjalani setiap hari, sebab semua hari pada dasarnya
baik selama diisi dengan ketaatan kepada-Nya. [Aham]


0 Comments