Cinta yang tulus kepada seseorang biasanya ditunjukkan melalui
pengorbanan. Seseorang yang benar-benar mencintai akan rela mengorbankan
kenyamanan, tenaga, bahkan harta dan nyawanya demi orang yang dicintai.
Demikian pula kecintaan para sahabat kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka rela
berkorban demi membela, melindungi, dan menegakkan ajaran yang dibawa oleh
Rasulullah SAW.
Para sahabat merupakan generasi terbaik dalam sejarah Islam. Mereka
hidup bersama Nabi Muhammad SAW, menyaksikan langsung perjuangan beliau dalam
menyampaikan risalah Islam, serta ikut berjuang mempertahankan agama Allah.
Kecintaan para sahabat kepada Rasulullah bukan hanya diucapkan dengan lisan,
tetapi juga dibuktikan melalui sikap setia, pengorbanan, serta keimanan yang
kuat.
Kewajiban mencintai Rasulullah SAW juga dijelaskan dalam hadis
Nabi:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ
وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ رواه البخاري و المسلم
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga
aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” [HR.
Bukhari dan Muslim]
Hadis tersebut menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah merupakan
bagian dari kesempurnaan iman seorang muslim. Para sahabat adalah contoh nyata
dari orang-orang yang memiliki kecintaan yang sangat besar kepada Nabi Muhammad
SAW.
Beberapa sikap mulia yang ditunjukkan para sahabat antara lain:
- Rela berkorban demi membela Rasulullah SAW
- Memiliki rasa cinta dan loyalitas yang tinggi kepada Nabi
- Memiliki keimanan yang kuat serta penuh keikhlasan
Salah satu kisah yang menunjukkan kecintaan dan pengorbanan para
sahabat terjadi ketika Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Makkah ke
Madinah. Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah SAW ditemani oleh sahabat
beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A.
Pada saat itu, seorang Quraisy bernama Suraqah bin Malik berusaha
mengejar Rasulullah SAW dengan menunggang kuda. Ketika melihat hal tersebut,
Abu Bakar R.A. merasa gelisah dan meneteskan air mata. Namun, ia tidak menangis
karena takut terhadap keselamatan dirinya, melainkan karena khawatir akan
keselamatan Rasulullah SAW.
Abu Bakar R.A. berkata, “Wahai Rasulullah, musuh sudah dekat.”
Rasulullah SAW kemudian menenangkan beliau dengan mengatakan bahwa mereka tidak
perlu takut, karena Allah senantiasa bersama mereka. Hal ini juga ditegaskan
dalam firman Allah SWT:
لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” [QS.
At-Taubah: 40]
Ketika Suraqah semakin mendekat, Rasulullah SAW berdoa kepada Allah
agar mereka dilindungi. Tidak lama kemudian, kaki kuda Suraqah tiba-tiba
terperosok ke dalam tanah yang keras hingga hampir mencapai perut kudanya.
Peristiwa tersebut membuat Suraqah tidak dapat melanjutkan pengejarannya (Kitab
Hubbu an-Nabi karya Imam Ahmad Asymuni
al-Jaruni).
Kisah tersebut menunjukkan betapa besar kecintaan para sahabat
kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka merasa bangga dapat berkorban demi Rasulullah.
Para sahabat juga senantiasa menaati perintah beliau dan menjauhi segala
larangannya. Bahkan, mereka siap mempertaruhkan jiwa dan harta demi menjaga
serta membela ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Kecintaan dan pengorbanan para sahabat menjadi teladan bagi umat
Islam hingga saat ini. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya meneladani
sikap mereka dengan memperbanyak kecintaan kepada Rasulullah SAW, menaati
sunnah beliau, serta berusaha mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan
sehari-hari. [Barsoenie]
Oleh:


0 Comments