Bagaimana Cara Beribadah Perempuan Haid dan Nifas dalam Menggapai Lailatul Qadar
كيف
تتعبد الحائض والنفساء إلى الله تعالى ليلة القدر؟
وعن
كيفية اغتنام الحائض والنفساء لليلة القدر، وعدم تضييع هذه المنحة الربانية، فقد أجابت دار الإفتاء المصرية عن هذا في فتوى برقم (٧٩٣٨) بعنوان: كيف تتعبد الحائض والنفساء إلى الله تعالى ليلة القدر؟وهل يعتبر قيامًا لهذه الليلة المباركة؟
الجواب:
يمكن
لذواتِ الحيض والنفاس أن يُحْيِينَ ليلة القدر بترك ما منعهنَّ الشرع الشريف منه
حال العذر إذا قصدن الامتثال في الترك، ثم يفعلن ما تيسر لهنَّ من الطاعات
والقربات، فيغتنمنَ الليلة بالإكثار من الذكر، والاستغفار، والتسبيح، والتهليل، والتكبير، والصلاة على النبي الأمين، والتصدق، والدعاء بالمأثور وغيره، وسماع القرآن والإنصات إليه، وقراءته بالعين لا باللسان على الذِّكر لا التعبد، وأن يَنوِينَ الطاعة والعبادة بما يُقَدِّمْنَه لبيوتهنَّ وأهلهنَّ وبما
يعينهن على الطاعة في تلك الليلة فيَحصُل لهنَّ الأجر والثواب، ويزيد على ذلك أنهنَّ يُثَبْنَ عما كان يمكن أن يفعلن ما لم
يمنعهنَّ العذر؛ لأنهنَّ مُبْتَلَياتٌ بأمر خارجٍ عن
استطاعتهنَّ.
Bagaimana
Perempuan Haid dan Nifas Beribadah kepada Allah pada Malam Qadar atau Lailatul
Qadar?
Adapun mengenai bagaimana perempuan yang sedang haid dan nifas
dapat memanfaatkan Lailatul Qadar serta tidak menyia-nyiakan anugerah Ilahi ini,
Dar al-Ifta Mesir telah menjawabnya dalam fatwa nomor (7938) dengan judul: Bagaimana
perempuan haid dan nifas beribadah kepada Allah pada malam Qadar? Apakah hal
itu dianggap sebagai menghidupkan malam yang penuh berkah ini?
Jawaban:
Perempuan yang sedang mengalami haid dan nifas tetap dapat menghidupkan
Lailatul Qadar dengan meninggalkan hal-hal yang memang dilarang oleh syariat
bagi mereka ketika berada dalam keadaan tersebut, dengan niat menaati perintah
Allah dalam meninggalkannya.
Kemudian mereka dapat melakukan berbagai bentuk amal kebaikan dan
ibadah yang memungkinkan bagi mereka, seperti:
- memperbanyak
zikir
- istighfar
(memohon ampun)
- tasbih
- tahlil
- takbir
- shalawat
kepada Nabi
- bersedekah
- berdoa,
baik dengan doa yang diajarkan maupun doa lainnya
- mendengarkan
Al-Qur’an dan menyimaknya
- membaca
Al-Qur’an dengan mata (tanpa melafalkan) sebagai bentuk zikir, bukan
sebagai ibadah tilawah.
Selain itu, mereka juga dapat meniatkan berbagai aktivitas yang
mereka lakukan untuk keluarga dan rumah tangga sebagai bentuk ibadah, serta
melakukan hal-hal yang membantu mereka dalam ketaatan pada malam tersebut.
Dengan demikian mereka tetap memperoleh pahala dan ganjaran.
Bahkan lebih dari itu, mereka juga akan mendapatkan pahala atas ibadah yang
biasa mereka lakukan sebelumnya, karena kondisi haid dan nifas ini merupakan ujian
yang berada di luar kemampuan mereka. [Aham]


0 Comments