Tadarus Bukan Sekadar Giliran: Spirit Koreksi, Tajwid, dan Tanggung Jawab Ilmiah di Bulan Suci

 

Dalam bulan suci ini, kata “tadarus” dengan sekejap menjadi beken di bumi nusantara. Pembacaan al-Qur’an secara bersama-sama adalah arti kata tadarus dalam KBBI. Kendatipun faktanya tidak begitu, melainkan pembacaan al-Qur’an dilakukan secara bergiliran dan lazimnya memakai pengeras suara.

Separuh fakta ini memiliki korelasi dengan makna tadarus dalam bahasa arab. Kata tersebut memiliki arti “masing-masing pelajar atas yang lain mempelajari kitab”. Makna ini di pijakkan pada hadis nabi yang menggunakan wazan mufā‘alah, di mana nabi Saw. membaca ayat al-Qur’an atas malaikat Jibril As. Dengan demikian, spirit dalam tadarus adalah saling mengingatkan dan menasihati.

قال الكرماني: وفائدة درس جبريل تعليم الرسول تجويد لفظه وتصحيح الحروف من مخارجها وليكون سنة في حق الأمة لتجويد التلامذة على الشيوخ في قراءاتهم

Al-Karmany berkata, “Hikmah tadarus al-Qur’an yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. pada malaikat Jibril As, adalah dalam rangka belajar memperbaiki dan mentashih huruf-huruf al-Qur’an. Di samping itu agar menjadi tuntunan bagi setiap pelajar untuk membaguskan bacaan al-Qur’annya kepada guru-gurunya. [al-Wajīz fī Tajwīd al-Kitāb al-‘Azīz, I, 4]

Imam Nawawi menjelaskan kebolehan tadarus yang demikian di dalam kitabnya, at-Tibyān fī Ādāb Ḥamalah al-Qur’ān.

فصل فى الإدارة بالقران

وهو أن يجتمع جماعة يقرأ بعضهم عشرا، أوجزأ اوغير ذلك، ثم يسكت ويقرأ الاخر من حيث انتهى الأول، ثم يقرأ الاخر، وهذا جائزحسن، وقد سئل مالك -رحمه الله تعالى- عنه، فقال : لا بأس به

Pasal: membaca al-Qur’an sambung-menyambung secara bergantian.

Yaitu sejumlah orang berkumpul, sebagian dari mereka membaca sepuluh ayat atau sebagian atau berapa ayat semaunya, kemudian diam (menyimak), dan yang lain meneruskan pembacaan yang pertama, kemudian dilanjutkan oleh yang lain untuk meneruskan bacaan sebelumnya secara bergiliran. Hal demikian adalah boleh dan baik. Imam Malik Ra telah ditanya terkait praktik tadarus ini dan beliau menjawab, Tidak ada masalah dengan hal seperti ini”.

Selanjutnya, saat teman kita keliru membaca ayat al-Qur’an maka kita berkewajiban membenahi bacaan yang keliru tersebut. Namun, apabila kita dalam keadaan junub, apakah tetap wajib membenahi bacaannya yang keliru?

Dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidīn dijelaskan bahwa orang junub sebenarnya haram membaca al-Qur’an, tetapi jika tidak bermaksud membaca al-Qur’an, seperti sedang membenahi bacaan al-Qur’an seseorang yang keliru, maka hukumnya tidak haram alias tetap wajib memperbaiki bacaan yang keliru.

وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ، ولا يقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء

Membaca al-Qur’an dengan niat baca al-Qur’an bagi orang yang junub adalah haram sekalipun disertai niat yang lain. Berbeda halnya bila tanpa niat apapun. Dan begitu juga tidak haram dengan niat selain membaca al-Qur’an, seperti membenahi bacaan yang keliru, mengajar, ngalap berkah dan doa. [Bughyah al-Mustarsyidīn, 52]

Dengan adanya keharusan saling mengingatkan dan menasihati, khususnya dalam tadarusan, maka sudah seharusnya kita senang dan berterima kasih kepada teman kita yang telah membenahi bacaan yang keliru. Karena sejatinya ia sudah menolong kita dalam kebaikan. Semoga bermanfaat. [Aham]


0 Comments

Top