Satu Perbuatan dengan Banyak Niat

 

Dalam ilmu Fiqh, persoalan ini dikenal dengan tasyrīk an-niyyāt (menggabung banyak niat dalam satu perbuatan). 

Dalam hal ini, para ulama mengklasifikasi sebagai berikut:

  1. Menggabung niat ibadah dengan non ibadah. Ada dua kemungkinan konsekuensi:
    • Membatalkan. Misalnya, melakukan takbiratul ihram berkali-kali, di mana masing-masing takbir diniatkan memulai salat. Dalam kondisi ini, maka seseorang dinilai masuk salat saat takbir hitungan ganjil dan keluar salat saat takbir hitungan  genap. Takbir pada hitungan genap dianggap keluar salat.
    • Tidak membatalkan. Misalnya, berwudu sambil berniat menyegarkan badan, puasa sambil diet, salat sambil menghindar debt collector, atau haji sambil kulakan. Meskipun  tidak membatalkan, menurut sementara ulama justru menghilangkan pahalanya. Tetapi Imam al-Ghazali memberikan rincian berikut: Kalau lebih condong niat duniawinya, maka tak dapat pahala. Apabila lebih besar niat ibadahnya, maka dapat pahala sekadar niat itu. Jika imbang, masing-masing gugur pahalanya.
  2. Menggabung niat ibadah fardu dengan fardu yang lain. Misalnya, mandi dengan niat mandi wajib sekaligus fardu wudu. Ini dinilai sah.
  3. Menggabung niat ibadah fardu dengan ibadah sunnah. Dalam hal ini ada beberapa kemungkinan:
    • Sah semua. Misalnya, mandi dengan niat mandi janabah dan mandi sunnah jum’at, puasa dengan niat qadla dan sunnah syawal, atau salat dengan niat salat fardu dan salat tahiyyat al-masjid.
    • Hanya fardu yang sah. Misalnya, niat salat fardu dan salat tarawih, atau niat haji wajib dan sunnah. Yang sah hanya yang fardu saja.
    • Hanya sah yang sunnah. Misalnya, mengeluarkan zakat sekaligus berniat sedekah sunnah. Yang sah hanya sedekahnya, sedangkan kewajiban zakat tidak gugur.
    • Batal semua, seperti niat salat fardu sekaligus sunah rawatib.
  4. Menggabung niat ibadah sunnah dengan sunnah yang lain. Misalnya, niat mandi jum’at dan mandi salat `id. Dua-duanya diperoleh.

Penjelasan di atas (terutama pada contoh-contohnya) masih memungkinkan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Wallahu a'lam. [Aham]

Sumber:

  • Imam Jalaluddin as-Suyuthi, al-Asybāh wa an-Nazhā'ir.  
  • Syeikh Yasin al-Fadani, al-Fawā'id al-Janiyyah.


Oleh: Ust. Muhammad Risqil Azizi, S.Ag., M.H.I 


0 Comments

Top