Syirik Dalam Labirin Modernitas: Lebih Dari Sekadar Berhala

 

Saat mendengar kata "Syirik" apa yang pertama kali melintas dalam benak kita? Mungkin kita langsung teringat pada scene film kolosal: deretan patung batu di tengah-tengah altar, kepulan asap kemenyan yang membumbung tinggi, atau ritual-ritual kuno yang tampak sangat jauh dari peradaban kita yang modern. Namun, apakah benar syirik sesederhana itu? Apakah ia hanya artefak masa lalu yang telah punah oleh rasionalitas?

Mari kita renungkan apakah syirik hanya terpaut pada penyembahan berhala saja, ataukah ia bisa menyelinap masuk pada hal-hal lain seperti makhluk hidup atau bahkan teknologi yang kita banggakan hari ini.

Menurut Ibnu Mandzur dalam kitab Lisan al-Arab, syirik secara bahasa berasal dari kata syaraka yang berarti berserikat, bersekutu, atau mencampurkan dua hal menjadi satu. Secara istilah adalah menyekutukan atau mensejajarkan Allah dalam ranah ketuhanan yakni menuhankan dzat lain selain Allah SWT, padahal tidak ada yang bisa menyamai hal-hal yang menjadi kekhususan Allah SWT.

Definisi ini memberikan kita kunci penting: syirik bukan berarti “tidak menyembah Tuhan sama sekali”, melainkan “menduakan” atau “mensejajarkan” otoritas Tuhan dengan entitas lain.

Syirik itu lawan dari tauhid; mengesakan  Allah sebagai Dzat yang patut disembah, pelaku syirik disebut sebagai musyrik, mereka adalah orang-orang yang sangat berdosa dan tidak terampuni, sebagaimana dalam Kalamullah surah An-Nisa’ ayat 48:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا ۝٤

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena menyekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapapun yang menyekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar”.

Berdasarkan kajian klasik para ulama, syirik terbagi menjadi dua macam. Pertama syirik besar-nyata (kabir-jaliy), kedua syirik kecil-tersembunyi (shagir-khafy).

Pertama, syirik besar-nyata adalah perbuatan yang secara nyata atau jelas atas meyakini adanya Tuhan selain Allah, dan meyakini pula ia bisa mengubah nasib makhluk.

Kedua, syirik kecil-tersembunyi inilah yang sering kali luput dalam kacamata modern. Ia dapat berupa perkataan tersirat yang meyakini bahwa ada berkuasa selain Allah, atau perbuatan yang ditujukan pada selain Allah (seperti riya’ atau pamer), atau kekaguman dan ketaatan kepada tokoh, ideologi, maupun benda yang melebihi batas wajar sehingga mengaburkan ketergantungan kita kepada Sang Khaliq.

Di era digital sekarang, “berhala” bukanlah yang berbentuk batuan, ia telah upgrade dalam keberbagai bentuk. Seperti teknologi, yang mana algoritma atau artificial intelligence (kecerdasan buatan) sebagai penentu mutlak masa depan kita. Validasi sosial, ketika jumlah likes dan followers menjadi tanda kebahagiaan dan tujuan hidup yang utama (syirik khafy dalam bentuk riya’). Dan materialisme, disaat harta dan tahta dianggap hal yang dapat memberi rasa aman yang lebih reel daripada perlindungan Allah.

Syirik di zaman modern ini bukan melulu tentang penyembahan batu, karena hal itu telah bermutasi menjadi berbagai macam bentuk tanpa kita sadari. Dari sini sangat penting bagi kita untuk memahami pemahaman mengenai syirik ditengah labirin modernitas untuk upaya terus menjaga kemurnian tauhid, juga memantapkan kita ditengah kecanggihan teknologi, posisi Tuhan itu absolut tidak dapat tergantikan oleh apapun. [Barsoenie]

Oleh: Muhammad Dzakwan

0 Comments

Top