Makna Kalimat Tauhid dalam Syariat, Tarekat dan Hakikat

 

Jauh sebelum meyakini bahkan mengucapkan lafad Lā Ilāha illā Allāh sebagai tanda seorang muslim sejati, maka dia harus memahami maknanya lafad tauhid tersebut terlebih dahulu.

قال سيدنا الشيخ علي بن أبي بكر السكران رضي الله عنه : معنى لا إله إلا الله فى الشريعة : لا معبود غير الله تعالى، وفى الطريقة : لا مقصود غير الله، وفى الحقيقة : لا موجود فى الدارين غير الله. نقله فى الغرر.

“Habib Ali bin Abu Bakr al-Sakran berkata: Makna kalimat tauhid (Lā ilāha illā Allāh) dalam kacamata syariat adalah tiada yang layak disembah kecuali Allah; sedangkan dalam sudut pandang tarekat berarti tidak ada yang layak dituju kecuali Allah; kemudian dalam aspek hakikat bermakna tidak ada yang wujud (secara independen) di dunia dan akhirat kecuali Allah Swt.”

Penjelasannya:

Aspek syariat menekankan penyembahan atau peribadatan. Sebab itu wajib dilakukan shalat, puasa, zakat dan seterusnya dalam fikih sebagai wujud penyembahan seorang hamba kepada Allah Swt.

Aspek tarekat menekankan lelaku batiniyah yang diwujudkan dengan meniti jalan yang diridhai Allah untuk menuju kepada Allah Swt. Dalam lelaku batin ini, hati ditata untuk semata-mata melakukan segala kebaikan demi Allah dan menjauhi keburukan juga semata-mata karena Allah Swt.

Aspek hakikat menekankan pengetahuan menyeluruh tentang sifat-sifat Allah yang wujud-Nya selalu ada tanpa pernah tiada, kuasa-Nya mencakup segala ciptaan-Nya, kehendak-Nya mencakup semua yang terjadi baik enak ataupun tidak, Tindakan-Nya mencakup semua gerak semesta, hingga sampai pada kesimpulan bahwa yang betul-betul ada secara hakiki tanpa bergantung pada apapun hanyalah Dia Swt. Selain Allah Swt, sebelumnya tidak ada kemudian menjadi ada hanya karena dikehendaki ada, lalu pada akhirnya kembali tiada saat kiamat.

Siapa yang kurang atau menyimpang dari salah satu aspek di atas, maka dia sesat. [Aham]


Oleh: Dr. Abdul Wahab Ahmad, M.H.I


0 Comments

Top