Syiah kerap ditampilkan
sebagai sekadar mazhab alternatif dalam Islam, seolah perbedaannya hanya teknis
dan perifer. Narasi ini problematik. Sebenarnya, Syiah lahir dari konflik
politik yang kemudian mengeras menjadi doktrin teologis, terutama terkait
otoritas kepemimpinan, kemaksuman imam, dan pembacaan ulang sejarah Islam awal.
Menutup mata terhadap dimensi ini bukan sikap moderat, melainkan pengaburan fakta.
Karena itu, pembahasan Syiah menuntut keberanian intelektual.
Dalam konteks Indonesia, -terlepas
ajarannya diakui atau tidak oleh Negara- Syiah memiliki visi untuk mensyiahkan Masyarakat
Indonesia dengan kucuran dana 3 triliun rupiah setiap tahun (menurut informasi yang
kredibel dan valid sekaligus). Siapakah Syiah yang sebenarnya? Mari kita
mengenal Syiah dari sudut pandang ulama Syiah sendiri.
Syaikh al-Mufid, seorang ulama
Syiah abad ke 5 H berkata:
الشِّيْعَةُ أَتْبَاعُ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عليه
السلام عَلَى سَبِيْلِ الْوَلاَءِ وَالاِعْتِقَادِ بِإِمَامَتِهِ بَعْدَ
الرَّسُولِ صلى الله عليه واله بِلاَ
فَصْلٍ, وَنَفْيِ الاِمامَةِ عَمَّنْ تَقَدَّمَهُ فِي مَقَامِ الخِلاَفَةِ,
وَجَعَلَهُ فِي الاِعْتِقَادِ مَتْبُوْعًا لَهُ غَيْرَ تَابِعٍ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ
عَلىَ وَجْهِ الاِقْتِدَاءِ (اوائل المقالات : 2-4).
“Syi’ah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) As. atas dasar mencintai dan meyakini
kepemimpinannya sesudah Rasul Saw. tanpa terputus (oleh orang lain). Tidak mengakui kepemimpinan (imamah) orang
sebelumnya (Ali) sebagai pewaris kedudukan khalifah dan hanya meyakini Ali
sebagai pemimpin, bukan mengikuti salah satu dari orang-orang sebelumnya (Abu
Bakar, Umar dan Utsman).” [Awāʾil al-Maqālāt, 2-4]
Dari mana silsilah ajaran Syiah
ini muncul? Ibn al-Murtadha, ulama Syiah berpendapat bahwa,
يَرَى اِبْنُ المُرتَضىَ أَنَّ أَصْلَ الشِّيْعَةِ
مَرْجَعُهُ اِلىَ ابْنِ سَبَاءٍ, لاَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ القَوْلَ
بِالنَّصِّ فيِ الاِمَامَةِ (تاج العروس : 5-6).
“Asal-usul Syiah disandarkan kepada
Abdullah bin Saba’, karena dialah orang yang pertama kali mengatakan tentang
konsep imamah.” [Tāj al-ʿArūs, 5-6]
Ulama Syiah, Abul Qosim bin Sa’ad bin
Abdullah al-Qummy (301 H) berkata:
إِنَّ عَبْدَ للهِ بْنُ سَبَاءٍ أَوَّلُ مَنْ
أَظْهَرَ الطَّعْنَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَالصَّحَابَةِ
وَتَبَرَّأَّ مِنْهُمْ, وَادَّعَى أَنَّ عَلِيًّا أَمَرَهُ بِذَلِكَ, (المقالات
والفرق, ص/20).
“Abdullah bin Saba’ adalah orang
pertama yang menghujat Abu Bakar, Umar, Utsman dan para sahabat lainnya secara
terang-terangan, serta tidak mengakui mereka. Dia mengatakan bahwa Ali Ra. yang
memerintahkan berbuat hal itu.” [al-Maqālāt wa al-Firaq, 20]
Ulama Syiah, Muhammad bin Umar
Al-Kasyiy (340 H) mengatakan,
وَذكَرَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ أنّ عبد الله بن
سَبَأٍ كان يَهُودِيًّا فَأَسْلَمَ وَوَالَى عَلِيَّا (ع), وكَانَ يقُولُ – وَهُوَ عَلَى يَهُودِيَّتهِ – في يُوشَعَ
بِنْ نُونٍ وَصِيُّ مُوسَى بالْغُلُوِّ,
فقال فيِ إِسْلاَمِهِ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم في عَلى (ع)
مِثْلَ ذَلِكَ, وكَانَ أَوَّلُ مَنْ أَشْهَرَ بِالْقَوْلِ بِفَرْضِ إِمَامَةِ
عَلِي (ع) وأَظْهَرَ البَرَاءَةَ مِنْ أَعْدَائِهِ وَكَاشَفَ مُخَالِفِيْهِ وَأَكْفَرَهُمْ, (رجال
الكشي, ص/ 108 ).
“Sebagian orang yang berilmu menyatakan
bahwa sesungguhnya Abdullah bin Saba’ itu orang beragama Yahudi kemudian masuk Islam
dan mendukung Sayyidina Ali As.. Dia berkata ketika masih beragama Yahudi bahwa
Yusya’ bin Nun itu adalah pewaris nabi Musa As. dengan cara yang berlebihan. Ketika
dia sudah beragama Islam, setelah wafatnya Rasulullah Saw., dia mengatakan hal
yang sama bahwa Sayyidina Ali As. itu adalah penerima wasiat dari nabi.
Abdullah bin Saba’ adalah terkenal sebagai orang yang pertama kali mewajibkan
keyakinan Sayyidina Ali As. sebagai imam, dan dia tidak mengakui orang yang
memusuhi Ali As., serta memberantas para penentangnya dan mengkafirkan mereka. [Rijāl
al-Kashshī, 108]
وَبِمثل ذلك أقر الحسن بن موسى النوبختي في كتابه
("فرق الشيعة", ص/22).
“Hal yang sama diucapkan oleh Hasan
bin Musa al-Naubakhti dalam kitabnya. [Firaq al-Shīʿah, 22]
Demikianlah asal-muasal Syiah menurut cara pandang ulama Syiah sendiri. Wallāhu aʿlam bi al-ṣawāb. [Aham]
.jpg)

0 Comments