Ragam Mazhab Aswaja



    Tiga prinsip Aswaja (al-tawassuṭal-tawāzun dan al-i‘tidāl) -sebagaimana artikel sebelumnya- dapat dilihat dalam berbagai aspek, baik dalam masalah keyakinan keagamaan (teologi), perbuatan lahiriah (fikih), serta masalah akhlak yang mengatur gerak batin (tasawuf).

    Dalam praktik keseharian, ajaran Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah di bidang teologi tercerminkan dalam rumusan yang digagas oleh Imam Asy‘arī dan Imam Māturīdī. Sedangkan dalam aspek perbuatan lahiriah (‘amaliyah), ajaran tersebut termanifestasikan dengan mengikuti empat mazhab fikih, yaitu Mazhab Ḥanafī, Mazhab Mālikī, Mazhab Syāfi‘ī, dan Mazhab Ḥanbalī. Adapun dalam bidang tasawuf, ajaran Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah mengikuti Imam Junayd al-Baghdādī dan Imam al-Ghazālī.

Definisi yang sederhana dan ringkas mengenai Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah dirangkum dalam bentuk nazham oleh KH. Zainal ‘Ābidīn Dimyāṭī sebagai berikut:

مُتَّبِعُوْا السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ # هُمْ يَتَّبِعُونَ مَذَاهِبَ الْأَئِمَّةِ

فَفِي الْأُصُولِ اتَّبَعُوا الْمَذْهَبَ # الْمَاتُرِيدِي الْأَشْعَرِي الْمُهَذَّبَ

وَفِي الْفُرُوعِ أَحَدَ الْأَرْبَعَةِ # هُمْ قَادَةُ هُدَاةِ هَذِى الْأُمَّةِ

الشَّافِعِى وَالْحَنَفِى الْمُبَجَّلِ # وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلِ

وَفِي التَّصَوُّفِ أَوِ الطَّرِيقَة # إِمَامُنَا الْجُنَيْدُ ذُو الْحَقِيقَة

Pengikut Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah adalah mereka yang mengikuti madzhab para imam

Dalam masalah usul (akidah), mereka mengikuti Imam Asy‘arī dan Imam Māturīdī

Dalam bidang fikih, mengikuti salah satu madzhab yang menjadi pemimpin umat ini

Imam Syāfi‘ī dan Ḥanafī yang cemerlang serta Imam Mālik dan Imam Ahmad bin Ḥanbal

Dalam bidang tasawuf atau ṭarīqah, mengikuti Imam Junaid.

[Al-Iḍā‘ah al-Muhimmah, 47]

    Salah satu alasan dipilihnya ulama-ulama tersebut oleh salafunā al-ṣāliḥ, sebagai panutan dalam Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah adalah karena mereka telah terbukti mampu membumikan ajaran Islam yang sesuai dengan inti sari agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. dan dipraktikkan oleh para sahabatnya. Mengikuti jalan tersebut merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Nabi Muhammad Saw. bersabda:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ سَلِمَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي

Artinya: “Dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr as-Sulami, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk setelahku.” [HR. Ahmad bin Hanbal, no. 16519]

    Karena itu, Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah merupakan Islam yang murni, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. dan sesuai dengan apa yang telah digariskan dan diamalkan oleh para sahabatnya.

    Ketika Rasūlullāh SAW. menerangkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, Nabi SAW. dengan tegas menyatakan bahwa golongan yang benar adalah mereka yang tetap berpedoman pada apa yang beliau ajarkan dan diamalkan oleh para sahabatnya pada masa itu (mā ana ‘alaihi al-yauma wa aṣḥābī).

    Dengan demikian, Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah sejatinya bukanlah aliran baru yang muncul sebagai reaksi atas penyimpangan sebagian kelompok dari ajaran Islam yang autentik. Sebaliknya, Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah hadir sebagai upaya menjaga kemurnian ajaran Islam dari berbagai aliran yang berpotensi mencabutnya dari akar dan fondasi aslinya.

    Ketika aliran-aliran tersebut semakin berkembang dan meluas, diperlukan suatu gerakan yang bertujuan untuk mensosialisasikan serta mengembangkan kembali ajaran Islam yang murni. Gerakan ini sekaligus menjadi salah satu ikhtiar untuk mempertahankan, memperjuangkan, dan mengembalikan ajaran Islam agar tetap selaras dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasūlullāh SAW. dan diamalkan oleh para sahabat beliau.

    Apabila pada masa kini banyak kelompok yang mengklaim diri sebagai bagian dari Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah, maka klaim tersebut harus dibuktikan melalui praktik kehidupan sehari-hari yang benar-benar mencerminkan pengamalan sunnah Rasūlullāh SAW. dan para sahabatnya. Abū Sa‘īd al-Khādimī berkata:

فَإِنْ قِيْلَ: كُلُّ فِرْقَةٍ تَدَّعِي أَنَّهَا أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، قُلْنَا: ذٰلِكَ لَا يَكُونُ بِالدَّعْوَى، بَلْ بِتَطْبِيقِ الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَذٰلِكَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى زَمَانِنَا إِنَّمَا يُمْكِنُ بِمُطَابَقَةِ صِحَاحِ الْأَحَادِيثِ كَكُتُبِ الشَّيْخَيْنِ وَغَيْرِهِمَا مِنَ الْكُتُبِ الَّتِي أُجْمِعَ عَلَى وَثَاقَتِهِنَّ

“Apabila ada yang bertanya: setiap kelompok mengklaim dirinya sebagai Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah, maka jawaban kami adalah: sesungguhnya hal itu tidak dapat dibuktikan hanya dengan klaim semata, melainkan harus diwujudkan dalam ucapan dan perbuatan. Dalam konteks zaman kita sekarang, perwujudan tersebut hanya dapat dilakukan dengan berpegang pada hadis-hadis sahih, yakni kitab-kitab karya al-Syaikhayn (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim) serta kitab-kitab lain yang telah disepakati keabsahannya.” [Al-Barīqah Syarḥ al-Ṭarīqah, 111–112]

    Berdasarkan uraian tersebut, dapat dirumuskan bahwa Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah merupakan ajaran yang sejalan dengan apa yang telah digariskan oleh Rasūlullāh SAW dan diamalkan oleh para sahabatnya. Oleh karena itu, Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah tidak dapat dipahami sebatas klaim identitas, melainkan harus dibuktikan melalui sikap, ucapan, dan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. [Aham]

*Disadur dari kitab al-Ḥujaj al-Qaṭ‘iyyah fī Ṣiḥḥah al-Mu‘taqadāt wa al-‘Amaliyyāt al-Nahḍiyyah, karya KH. Muhyiddin Abdusshomad.

 


0 Comments

Top