Di antara
lautan manusia berpakaian ihram yang memadati jalanan menuju Tanah Suci, satu
suara menggema seirama, membelah langit dan hati. Itulah talbiyah:
لَبَّيْكَ
اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ
وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ
Labbaika Allāhumma labbaik,
labbaika lā syarīka laka labbaik, inna al-ḥamda wa al-ni‘mata laka wa al-mulk,
lā syarīka lak. “Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, segala puji, seluruh
nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”
Sekilas ia
tampak seperti untaian zikir yang menenangkan, namun jika kita menyelaminya
lebih dalam, talbiyah adalah naskah akidah yang begitu padat; sebuah deklarasi
tauhid yang merangkum inti keimanan dalam beberapa patah kata.
Coba
perhatikan bagian “inna al-ḥamda wa al-ni‘mata laka wa al-mulk”—segala
puji, seluruh nikmat, dan kerajaan adalah milik Allah. Ini bukan sekadar
pengakuan, melainkan pukulan telak bagi segala ilusi kekuatan di luar-Nya.
Dalam akidah, inilah yang disebut tauhid rububiyah: keyakinan bahwa Allah
semata sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam raya. Kitab Kifayat
al-‘Awwam menegaskan, “Wajib diyakini bahwa Allah Ta‘ala adalah
pencipta seluruh sesuatu.” [Al-Fuḍālī, Kifāyat al-‘Awām fī Mā Yajibu
‘Alayhim min ‘Ilm al-Kalām, Jeddah: Dār al-Minhāj, 62]. Artinya, tidak ada
satu pun makhluk—entah raja, presiden, miliarder, matahari, atau bintang—yang
memiliki daya independen. Apa yang tampak sebagai kekuasaan dan nikmat di
tangan manusia, hakikatnya hanyalah titipan dari-Nya. Dengan menyadari ini,
talbiyah langsung meruntuhkan kesombongan bahwa ada selain Allah yang layak
diandalkan atau ditakuti.
Lalu, jika
semua nikmat dan kekuasaan hanya milik Allah, apa konsekuensinya bagi kita? Di
sinilah talbiyah membawa kita ke jenjang berikutnya: tauhid uluhiyah. Kalimat “Labbaika
Allāhumma labbaik” adalah jawaban tunduk, aku datang memenuhi panggilan-Mu
dengan segenap ketaatan dan penghambaan. Dan pengakuan “lā syarīka lak”—tiada
sekutu bagi-Mu—yang diulang dua kali, menegaskan bahwa dalam hak penyembahan,
Allah tidak berbagi dengan siapa pun. Doa, sujud, tawakal, bahkan getaran harap
dan cemas di hati, seluruhnya hanya boleh diarahkan kepada Allah Swt. Ibarat
logika sederhana nan dahsyat: kalau hanya Dia yang mencipta dan memberi segala
sesuatu, maka hanya Dia pula yang berhak diibadahi. Talbiyah menyusun premis
ini dengan sangat anggun, mengalir dari pengakuan rububiyah menuju penegasan
uluhiyah tanpa jeda. Prinsip ini sejalan dengan kaidah akidah yang masyhur di
kalangan para ulama:
تَوْحِيدُ
الرُّبُوبِيَّةِ مُسْتَلْزِمٌ لِتَوْحِيدِ الْأُلُوهِيَّةِ
“Tauhid rububiyah mengharuskan
tauhid uluhiyah.”
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa hanya Sang Pencipta segala sesuatu yang berhak diibadati. Siapapun yang meyakini keesaan Allah dalam menciptakan dan mengatur alam semesta, ia wajib mengesakan-Nya pula dalam ibadah.
Maka, ketika
jutaan manusia melantunkannya dengan suara lantang, sesungguhnya mereka bukan
cuma mengulang zikir, tapi sedang memperbarui janji tauhid. Setiap getar suara
adalah pemakluman: tidak ada nikmat kecuali dari Allah, tidak ada kekuasaan
sejati selain milik Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain
Allah. Talbiyah adalah syahadat yang dinyanyikan, manifesto keimanan yang
mengumandang ke seluruh alam dan menggema ke relung hati. Ia mengingatkan bahwa
haji bukan semata perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin menuju pemurnian
tauhid. Sebuah momen di mana kita menanggalkan semua ilusi dan kembali
menegaskan dengan lantang dan rendah hati, bahwa seluruh alam berada dalam
genggaman-Nya, dan seluruh ibadah hanya untuk Allah semata. [Aham]
.png)

0 Comments